Minggu, 31 Oktober 2021

 

Metode Penelitian Kuanttatif

Essai Variabel, Statistik Deskriptif, pemilihan dan penafsiran berbagai Statistik Inferential

Hidayatullah Hana Putra (210321868030)

 

Statistik Deskriptif

Statistik Deskriptif mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran objek yang diteliti sebagaimana adanya tanpa menarik kesimpulan atau generalisasi. Dalam statistik deskriptif ini dikemukakan cara-cara penyajian data dalam bentuk tabel maupun diagram, penentuan rata-rata (mean), modus, median, rentang serta simpangan baku. Metode statistik digolongkan menjadi dua yaitu Metode Statistik Deskriptif dan Metode Statistik Inferensial.

Berikut adalah ruang lingkup Statistik Deskriptif menurut beberapa ahli. Somantri (2006: 19) berpendapat bahwa di dalam statistik deskriptif membahas cara-cara pengumpulan data, penyederhanaan angka-angka pengamatan yang diperoleh (meringkas dan menyajikan), serta melakukan pengukuran pemusatan dan penyebaran data untuk memperoleh informasi yang lebih menarik, berguna dan mudah dipahami.

 

Jenis-jenis Statistika

Dapat dibedakan/ditinjau dari:

Orientasi Pembahasannya:

ü  Mathematical Statistics atau Statistika Teoretis, berorientasi kepada pemahamanmodel dan teknik statistika secara matematis-teoretis;

ü  Applied Statistics, berorientasi kepada pemahaman intuitif atas konsep dan teknik statistika serta penggunaannya dalam berbagai bidang.

Tahapan atau tujuan analisisnya:

ü  Statistika Deskriptif, untuk memperoleh deskripsi tentang ukuran-ukuran data ditangan (baik sampel-statistik maupun populasi-parameter);

ü  Statistika Inferensial/Indukstif, yakni dari harga statistik digunakan untuk “menaksir” atau menguji hipotesis yang berlaku untuk populasi.

Asumsi distribusi populasi data yang dianalisisnya:

ü  Statistika Parametrik–model distribusi normal,

ü  Statistika Nonparametrik–distribution free statistics.

Jumlah dependent variable yang dianalisisnya:

ü  Statistika Univariat, dan

ü  Statistika Multivariat (dua varaibel terikat atau lebih), berapapun variabel bebasnya.

Bidang/kajian dimana statistika itu digunakan, misalnya “statistika”: pertanian, industri, pendidikan, ekonomi, kependudukan, “biostatistics”.

Statistik Inferensial

Statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel, dan hasilnya akan digeneralisasikan (diinferensikan) untuk populasi tempat sampel diambil (Sugiono, 2015). Adapun Creswell, mengemukakan statistik inferensial sebagai metode analisis data pada sampel yang digunakan untuk menggeneralisasikan suatu populasi (Nisfiannoor, 2009). Berdasarkan pendapat tersebut statistik inferensial biasa digunakan untuk menentukan kesimpulan dari berdasarkan data-data statistik. Sejalan dengan itu Ananda dan Fadhli (2018), menyatakan bahwa statistik inferensial (Inferential Statistics), merupakan statistik yang mempelajari atau mempersiapkan tata cara penarikan kesimpulan mengenai karakteristik populasi, berdasarkan data kuantitatif yang diperoleh dari sampel penelitian.

Statistik Inferensial, disebut juga statistik induktif atau statistik probabilitas. Adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Disebut statistik probabilitas karena kesimpulan yang diberlakukan untuk populasi berdasarkan data sampel itu kebenarannya bersifat peluang (probability). Suatu kesimpulan dari data sampel yang akan diberlakukan untuk populasi itu mempunyai peluang kesalahan dan kebenaran (kepercayaan) yang dinyatakan dalam bentuk persentase. Statistik inferensial, menyelidiki pertanyaan, model dan hipotesis.

Pemilihan Statistik Inferensial

Sebelum masuk ke bagaimana memilih statistik inferensial yang akan digunakan perlu kita pahami terlebih dulu ruang lingkup pembahasan dari statistik inferensial. Menurut Supardi (2013), ruang lingkup mengenai kajian statistik inferensial meliputi: a) Uji persyaratan analisis (uji pelanggaran klasik) seperti uji normalitas, uji homogenitas, uji kelinieran, uji multikolinieritas. b) Uji hipotesis asosiasi seperti uji korelasi, uji regresi, uji analisis jalur dan uji kanonikal. c) Uji hipotesis komparasi, seperti uji t, uji beda dua kelompok data, uji Tucket, analisis varian, analisis kovarian, multivarian analisis varians dan multivariate analisis.

Penafsiran Statistik inferensial

Data hasil analisis statistik inferensial biasanya disajikan dalam bentuk yang lebih mudah untuk dipahami. Data harus disusun secara sistematis, menarik, dan komunikatif. Untuk itu, data dapat disajikan dalam berbagai bentuk, yaitu bentuk tekstual, tabel, maupun grafik.

1)      Metode Tekstual

Penyajian data dalam bentuk tekstual umumnya menjelaskan suatu kejadian yang berkaitan dengan faktor: What (apa), Where (dimana), When (dimana), dan Who (siapa). Disini data diberi penjelasan teks agar lebih komunikatif dan menarik.

2)      Metode Tabel

Penyajian data dalam bentuk tabel lebih praktis dibandingkan dalam bentuk teks. Tabel terdiri dari baris dan kolom berisi data.

3)      Metode Grafik

Data statistik dapat ditampilkan dalam bentuk grafik. Dengan bantuan grafik, perangkat data yang besar dan kompleks dapat disajikan secara menarik dalam tampilan sederhana dan praktis.

Selasa, 26 Oktober 2021

 

Metode Penelitian Kuantitatif (Topik 8: Statistik Korelasi dan Regresi)

Hidayatullah Hana Putra

210321868030

 

Statistik Korelasi

Ketika hubungan bersifat kuantitatif, alat statistik yang tepat untuk menemukan dan mengukur hubungan dan mengungkapkannya dalam rumus singkat ialah menggunakan korelasi. Korelasi adalah analisis kovariasi antara dua variabel atau lebih. Dua variabel dikatakan berkorelasi jika perubahan pada salah satu variabel mengakibatkan perubahan yang sesuai pada variabel lainnya. Oleh karena itu, korelasi adalah alat statistik yang mempelajari hubungan antara 2 variabel.

Dua variabel, misalnya, usia dan tekanan darah ditemukan bervariasi dalam beberapa mode linier. Cara yang tepat untuk menyatakan derajat hubungan linier antara keduanya adalah dengan perhitungan koefisien korelasi. Oleh karena itu, ketika seseorang mempelajari hubungan antara dua variabel disebut analisis korelasi sederhana, dan jika lebih dari dua variabel maka disebut analisis multivariat.

Korelasi dapat bervariasi dari –1.0 (hubungan atau asosiasi negatif yang sempurna), 0,0 (tidak ada korelasi), hingga +1,0 (korelasi positif sempurna). Perhatikan bahwa +1 dan -1 adalah sama tinggi atau kuatnya, tetapi keduanya menimbulkan interpretasi yang berbeda. Korelasi positif yang tinggi antara kecemasan dan nilai akan berarti bahwa siswa dengan kecemasan yang lebih tinggi cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi nilai, mereka dengan kecemasan yang lebih rendah memiliki nilai yang lebih rendah. Korelasi negatif yang tinggi berarti bahwa siswa dengan kecemasan tinggi cenderung memiliki nilai rendah; begitu pula sebaliknya. Sementara korelasi nol tidak ada asosiasi yang konsisten. Seorang siswa dengan kecemasan tinggi mungkin memiliki nilai rendah, sedang, atau tinggi.

 

Tipe-tipe Korelasi

Korelasi Positif dan Negative

Korelasi Linier dan Non-Linier

Metode Pengkajian Korelasi

Ada berbagai metode untuk mempelajari tingkat korelasi tergantung pada jenisnya variabel dan jumlah variabel yang terlibat. Jika hanya dua variabel yang dipelajari dalam penyelidikan, itu adalah analisis bivariat. Derajat hubungan antara dua pengukuran variabel dapat dilakukan baik secara grafis maupun matematis.

 

Analisis Regresi

Analisis regresi dalam statistika adalah salah satu metode untuk menentukan hubungan sebab–akibat antara satu variabel dengan variabel (-variabel) yang lain. Variabel “penyebab” disebut dengan bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel eksplanatorik, variabel independen, atau secara bebas, variabel X (karena sering kali digambarkan dalam grafik sebagai absis, atau sumbu X). Variabel terkena akibat dikenal sebagai variabel yang dipengaruhi, variabel dependen, variabel terikat, atau variabel Y. Kedua variabel ini dapat merupakan variabel acak (random), namun variabel yang dipengaruhi harus selalu variabel acak.

Analisis regresi adalah salah satu analisis yang paling populer dan luas pemakaiannya. Hampir semua bidang ilmu yang memerlukan analisis sebab–akibat boleh dipastikan mengenal analisis ini. Analisis regresi dan analisis korelasi dikembangkan untuk mengkaji dan mengukur hubungan antara dua variabel atau lebih.

Variabel yang di estimasi itu disebut variabel dependen (atau variabel terikat) sedangkan variabel yang diperkirakan memengaruhivariabel dependen itu disebut variabel independen (atau variabel bebas). Variabel dependen lazimnya dilukis pada sumbu Y (dan karenanya diberi simbol Y) sementara variabel independen dilukis pada sumbu X (dan karenanya diberi simbol X). Berdasarkan konsep ini" maka hubungan antara variabel Y dan X dapat diwakili dengan sebuah garis regresi. Di samping untuk mengestimasi, analisis regresi juga digunakan untuk mengukur tingkat ketergantungan.

Prasyarat Regresi linier Sederhana

Seorang peneliti yang menganalisis data penelitiannya dengan analisa regresi, harus mengacu kepada kriteria atau persyaratan agar hasil penelitiannya benar-benar dapat diterima masyarakat. Kriteria yang harus dipenuhi tersebut adalah instrumen penelitian (kuesioner) terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas kemudian dilakukan uji asumsi klasik dan selanjutnya uji hipotesis (uji t dan uji F), membuat persamaan regresi dan menganalisis koefisien determinasi (R2).

Model kelayakan regresi linier didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

1.      Model regresi dikatakan layak jika angka signifikansi pada ANOVA sebesar < 0,05.

2.      Prediktor yang digunakan sebagai variabel bebas harus layak. Kelayakan ini diketahui jika angka Standard Error of Estimate < Standard Deviation.

3.      Koefesien regresi harus signifikan. Pengujian dilakukan dengan Uji t. Koefesien regresi signifikan jika thitung > ttabel (nilai kritis).

4.      Tidak boleh terjadi multikolinieritas, artinya tidak boleh terjadi korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah antar variabel bebas. Syarat ini hanya berlaku untuk regresi linier berganda dengan variabel bebas lebih dari satu.

5.      Tidak terjadi otokorelasi. Terjadi otokorelasi jika angka Durbin dan Watson (DB) sebesar < 1 dan > 3.

6.      Keselerasan model regresi dapat diterangkan dengan menggunakan nilai rm2 semakin besar nilai tersebut maka model semakin baik. Jika nilai mendekati 1 maka model regresi semakin baik. Nilai rm2 mempunyai karakteristik diantaranya: o Selalu positif o Nilai rm2 maksimal sebesar 1. Jika Nilai r2 sebesar 1 akan mempunyai arti kesesuaian yang sempurna. Maksudnya seluruh variasi dalam variabel Y dapat diterangkan oleh model regresi. Sebaliknya jika rm2 sama dengan 0, maka tidak ada hubungan linier antara X dan Y.

7.      Terdapat hubungan linier antara variabel bebas (X) dan variabel tergantung (Y).

8.      Data harus berdistribusi normal.

9.      Data berskala interval atau rasio.

10.  Kedua variabel bersifat dependen, artinya satu variabel merupakan variabel bebas (disebut juga sebagai variabel prediktor) sedang variabel lainnya variabel tergantung (disebut juga sebagai variabel response).

 

Senin, 18 Oktober 2021

 

Essai Metode Penelitian Kuantitatif (Topik 7) Cek data Validitas, Reabilitas, dan asumsi

Hidayatullah Hana Putra

210321868030

 

VALIDITAS

Validitas atau kesahihan berasal dari kata validity yang berarti sejauh mana ketetapan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Dengan kata lain, validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauh mana instrument pengumpulan data telah telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Reabilitas yang berasal dari kata reliability berarti sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. . Uji reabilitas menunjukkan bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat mengumpulkan data karena instrumen tersebut sudah dianggap baik dan dapat digunakan dalam pengambilan data penelitian.

Dalam pengujian instrument terdapat dua jenis validitas, secara umum terbagi menjadi dua yaitu validitas secara rasional dan validitas secara empiris.

1.    Validitas rasional memiliki nama lain, yaitu validitas logis, validitas ideal dan validitas das sollen. Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh atas dasar hasil pemikiran, validitas yang diperoleh dengan berpikir secara logis. Untuk dapat menentukan apakah instrument itu memang memiliki validitas rasional atau belum, dapat dilakukan penelusuran dari dua segi, yaitu dari segi isi (validitas isi) dan dari segi susunan (validitas konstruk).

2.    Validitas Empirik atau validitas kriteria suatu instrument ditentukan berdasarkan data hasil ukur instrument yang bersangkutan, baik melalui uji coba maupun melalui tes atau pengukuran yang sesungguhnya. Validitas empiric diartika sebagai validitas yang ditentukan kriteria, baik kriteria internal maupun kriteria eksternal. Untuk dapat menentukan apakah instrument itu memang memiliki validitas empiric atau belum, dapat dilakukan penelusuran dari dua segi, yaitu dari segi daya kecepatan meramal (predictive validity) dan segi daya ketepatan banding (concurrent validity).

REABILITAS

Pengertian reliabilitas menunjuk pada ketetapan (konsistensi) dari nilai yang diperoleh sekelompok individu dalam kesempatan yang berbeda dengan test yang sama ataupun yang itemnya ekuivalen. Konsep reliabilitas mendasari kesalahan ukur yang mungkin terjadi pada nilai tunggal tertentu, sehingga susunan dari kelompok mungkin berubah. Reliabel lebih mudah dimengerti, dengan memperhatikan tiga aspek dari suatu alat ukur, yaitu : kemantapan, ketepatan, dan homogenitas.

Contoh, umpamanya kita menimbang badan kita pada suatu timbangan dan jarum menunjukan angka 59. Tak lama kemudian kita coba timbangan itu, ternyata menunjuk angka 63. Kita katakan bahwa terjadi kesalahan pengukuran , timbangan tersebut tidak reabel. Bila kita ingin mengetahui ketetapan dari alat pengukur pada sekelompok individu yang berbeda dari populasi tersebut, maka kita berbicara tentang kemungkinan kesalahan pengukuran sampel (sampling error).

Faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas

1.    Banyaknya Butir Soal: Banyaknya soal pada instrumen ikut mempengaruhi derajat reliabilitas, sebagaimana dinyatakan dalam rumus Spearman, Brown.

2.    Range skor total : Makin besar range skor total, alat ukur makin reliabel, karena menunjukkan bahwa subyek uji coba heterogen.

3.    Homogenitas item: Soal yang memili homogenitas tinggi cenderung mengarah kepada tingginya tingkat reliabilitas. Dua buah tes yang sama jumlah butir-butirnya akan tetapi berbeda isinya, misal yang satu mengukur pengetahuan kebahasaan dan yang lainnya mengukur kemampuan kimia, akan menghasilkan tingkat reliabilitas yang berbeda. Tes kimia cenderung menghasilkan tingkat reliabilitas yang lebih tinggi daripada tes kebahasaan karena segi isi kemampuan menyelesaikan soal kimia lebih homogen daripada pengetahuan kebahasaan. Makin homogen aitem, makin reliabel.

4.    Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tes: Semakin terbatasnya waktu dalam pengerjaan tes, maka akan mendorong tes cenderung memiliki reliabilitas yang tinggi.

5.    Keseragaman kondisi pada saat tes diberikan: Kondisi pelaksanaan tes semakin seragam akan memunculkan reliabilitas yang makin tinggi.

6.    Kecocokan tingkat kesukaran terhadap peserta tes: Bahwa soal-soal dengan tingkat kesukaran sedang, cenderung lebih reliable dibandingkan dengan soal-soal yang sangat sukar maupun sangat mudah. Tingkat kesulitan butir soal, butir yang terlalu mudah atau terlalu sulit, reliabilitas rendah. Tingkat kesulitan yang baik berkisar 0.25 s/d 0.75.

7.    Heteroginitas kelompok : Bahwa semakin heterogen kelompok dalam pengerjaan tes, maka tes tersebut semakin cenderung untuk menunjukkan tingkat reliabilitas yang tinggi.

8.    Variabilitas skor : Instrumen yang menghasilkan rentangan skor yang

 

Dalam penelitian, asumsi/anggapan dasar sangat diperlukan untuk dirumuskan secara jelas sebelum melangkah mengumpulkan data. Hal-hal yang mendasari pentingnya peneliti membuat asumsi yaitu:

1)      Asumsi menjadi dasar berpijak yang kokoh bagi masalah yang sedang diteliti.

2)      Asumsi mempertegas variable yang menjadi fokus penelitian.

3)      Asumsi membantu dalam menentukan dan merumuskan hipotesis.

 

Asumsi merupakan suatu keadaan yang dengan sengaja dimuculkan oleh peneliti sebagai bentuk penyederhanaan kenyataan yang begitu kompleks. Dengan kata lain, asumsi juga bisa disebut sebagai aturan praktis. Asumsi juga dapat diartikan sebagai suatu landasan berpikir yang dianggap benar walaupun hanya untuk sementara. Hal ini dikarenakan asumsi bukanlah suatu kepastian.

Asumsi sangat diperlukan dalam penelitian sebagai batas jangkauan penelitian. Dalam menyusun hipotesis, diperlukan asumsi bahwa ada perbedaan antara parameter populasi yang diwakili oleh sampel, misalnya peneliti mungkin memprediksi bahwa populasi A yang diwakili oleh sampel A akan memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi pada Tes Keterampilan Dasar daripada populasi B yang diwakili oleh sampel B. Untuk menentukan hipotesis, peneliti perlu memberikan asumsi bahwa hal tersebut benar pada dasar teori atau temuan penelitian penelitian sebelumnya.

Kemudian dalam uji stattistk parametrik dibuat beberapa asumsi tentang nilai populasi yang diwakili oleh sampel yang digunakan dalam suatu penelitian. Salah satu asumsi utama yang digunakan adalah bahwa nilai populasi pada ukuran yang digunakan dalam studi penelitian berdistribusi normal. Asumsi lainnya adalah bahwa varians nilai dalam populasi yang dibandingkan adalah sama. Peneliti biasanya menggunakan tes parametrik jika asumsi ini tidak dilanggar. Namun, jka asumsi ini dlanggar, maka peneliti menggunakan unji statistik nonparametrik. Dalam penelitian dengan metode kombinasi pun, asumsi dasar yang digunakan dalam kedua metode kuantitatif dan kualitatif memberikan pemahaman yang lebih baik tentang masalah dan pertanyaan penelitian daripada masing-masing metode itu sendiri.

 

Minggu, 10 Oktober 2021

 

StatIn Essai Pert. 6 Regresi 1: Prasyarat Analisis, Analisis Regresi Tunggal

Hidayatullah Hana Putra (210321868030)

 

Pengertian Regresi linier Sederhana

Salah satu alat yang dapat digunakan dalam memprediksi permintaan dimana yang akan datang dengan berdasarkan data masa lalu, atau untuk mengetahui pengaruh suatu variable bebas (independent) terhadap satu variable terikat (dependent) adalah menggunakan regresi linear (Siregar, 2015). Regresi digunakan sebagai alat ukur untuk mengukur ada atau tidak korelasi antar variable/ Analisis regresi adalah sebuah teknik statistic untuk membuat model dan menyelidiki hubungan Antara dua atau lebih varibel yang dimaksud. Regresi mengukur seberapa besar suatu variabel memppengaruhi variabel yang lain sehingga dapat digunakan untuk melalukakn peramalan nilai suatu variabel berdasarkan variabel lain. Regresi Linier dibagi menjadi dua kategori sebagai berikut:

1.      regresi linier sedehana (tunggal) 

2.      regresi linier berganda.

Variabel dependent pada regresi linier disebut juga sebagai respons atau criterion, sedangkan variabel independent dikenal sebagai predikto atau regresor. Kovariat adalah variabel independent yang berkorelasi dengan predictor lainnya, juga mempengaruhi respons. Kovariat umumnya tidak diminati hubungannya dengan respons dan hanya digunakan untuk pengendalian hubungan predictorrespons dalam model.

Model kelayakan regresi linier didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

1.      Model regresi dikatakan layak jika angka signifikansi pada ANOVA sebesar < 0,05.

2.      Prediktor yang digunakan sebagai variabel bebas harus layak. Kelayakan ini diketa hui jika angka Standard Error of Estimate < Standard Deviation.

3.      Koefesien regresi harus signifikan. Pengujian dilakukan dengan Uji t. Koefesien regresi signifikan jika thitung > ttabel (nilai kritis).

4.      Tidak boleh terjadi multikolinieritas, artinya tidak boleh terjadi korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah antar variabel bebas. Syarat ini hanya berlaku untuk regresi linier berganda dengan variabel bebas lebih dari satu.

5.      Tidak terjadi otokorelasi. Terjadi otokorelasi jika angka Durbin dan Watson (DB) sebesar < 1 dan > 3.

6.      Keselerasan model regresi dapat diterangkan dengan menggunakan nilai rm2 semakin besar nilai tersebut maka model semakin baik. Jika nilai mendekati 1 maka model regresi semakin baik. Nilai rm2 mempunyai karakteristik diantaranya:

Ø  Selalu positif

Ø  Nilai rm2 maksimal sebesar 1. Jika Nilai r2 sebesar 1 akan mempunyai arti kesesuaian yang sempurna. Maksudnya seluruh variasi dalam variabel Y dapat diterangkan oleh model regresi. Sebaliknya jika rm2 sama dengan 0, maka tidak ada hubungan linier antara X dan Y.

7.      Terdapat hubungan linier antara variabel bebas (X) dan variabel tergantung (Y).

8.      Data harus berdistribusi normal.

9.      Data berskala interval atau rasio.

10.  Kedua variabel bersifat dependen, artinya satu variabel merupakan variabel bebas (disebut juga sebagai variabel prediktor) sedang variabel lainnya variabel tergantung (disebut juga sebagai variabel response) (Arnita, 2013: Hal: 143-144).

 

 

Met Pen Kuan: Essai Kel.3 (T0pik 6) Sejarah, Karakteristik, Ancaman Validitas dan Tahapan Penelitian

Hidayatullahb Hana Putra (210321868030)

 

A.   Sejarah Penelitian Kuantitatif Eksperimental

Bentuk penelitian ini ditemukan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pada tahun 1903, Schuyler telah menggunakan kelompok eksperimen dan kontrol. Kemudian, pada tahun 1916, McCall mengajukan gagasan penugasan secara acak individu ke kelompok (Campbell & Stanley, 1963). Pada tahun 1923, McCall dengan tegas menetapkan prosedur membandingkan kelompok. Selain itu, pada tahun 1925 dalam buku Fisher, Statistical Methods for Research Workers membahas prosedur statistik yang berguna dalam eksperimen dalam psikologi dan pertanian. Konsepnya adalah menugaskan individu secara acak ke dalam kelompok sebelum memulai sebuah eksperimen. Antara tahun 1926 dan 1963, lima set buku teks tentang statistik telah mengalami banyak perubahan edisi.

Campbell dan Stanley (1963) telah mengidentifikasi jenis utama dari desain eksperimental. Kemudian Cook dan Campbell (1979) menguraikan jenis desain, memperluas diskusi tentang ancaman validitas. Sejak 1980-an, eksperimen telah berkembang dalam kecanggihan dan kompleksitas, sebagian besar karena komputer dan prosedur statistik yang lebih baik.

 

Karakteristik Penelitian Kuantitatif Eksperimental

Penugasan Acak, Merupakan proses menugaskan setiap peserta secara acak ke dalam kelompok-kelompok atau kelompok yang berbeda dalam eksperimen. Penugasan acak membuat setiap bias dalam karakteristik pribadi individu dalam eksperimen didistribusikan secara merata di antara kelompok. Hal ini memberikan kontrol untuk karakteristik asing dari peserta yang mungkin mempengaruhi hasil (misalnya, kemampuan siswa, rentang perhatian, dan motivasi). Istilah percobaan untuk proses ini adalah "menyamakan" kelompok.

Kontrol atas variabel asing, Dalam menugaskan individu secara acak diharapkan untuk dapat mengendalikan variabel asing yang mungkin mempengaruhi hubungan antara praktik baru (misalnya, diskusi pada bahaya kesehatan) dan hasil (misalnya, frekuensi merokok). Faktor asing adalah pengaruh dalam pemilihan peserta, prosedur, statistik, atau desain cenderung mempengaruhi hasil dan memberikan penjelasan alternatif untuk hasil yang diharapkan.

Manipulasi kondisi perlakuan eksperimen, Setelah memilih peserta, peneliti secara acak menetapkan peserta ke salah satu kondisi perlakuan eksperimen. Dalam perlakuan eksperimental, peneliti secara fisik mengintervensi untuk mengubah kondisi (misalnya, hadiah untuk kinerja ejaan yang baik atau jenis instruksi kelas khusus, seperti kelompok kecil diskusi).

Pengukuran hasil penelitian, Hasil penelitian akan diperoleh dengan menilai apakah kondisi perlakuan eksperimental mempengaruhi hasil atau variabel dependen, seperti penurunan tingkat merokok atau pencapaian tes.

Perbandingan kelompok, Perbandingan kelompok adalah proses peneliti untuk mengetahui apakah ada perbedaan dari setiap individu dan atau kelompok pada variabel dependen dan setelah itu membandingkan rata-rata dan varians antara kelompok.

Ancaman Validitas, Ancaman untuk menarik kesimpulan yang benar perlu ditangani dalam eksperimen. Ancaman terhadap validitas mengacu pada alasan spesifik mengapa kita bisa salah ketika kita membuat kesimpulan dalam percobaan karena kovarians, konstruksi sebab-akibat, atau apakah hubungan sebab akibat berlaku atas variasi orang, pengaturan, perlakuan, dan hasil.

 

B.   Ancaman Validitas Internal Penelitian Eksperimen

Delapan jenis variabel asing yang dapat mempengaruhi validitas internal eksperimen  atau peristiwa tidak direncanakan yang terjadi selama penelitian dan dapat mempengaruhi hasil penelitian. Peristiwa ini dapat menimbulkan masalah dalam menentukan, dan memperdebatkan mengapa hasil tersebut dapat terjadi.

Efek Pematangan (Maturasi), adalah pola perkembangan alami yang terjadi karena terlibat dalam peristiwa kehidupan sehari-hari.

Efek Pengujian, Jika pre tes dan post tes serupa atau diberikan dalam waktu berdekatan, peserta penelitian mungkin menunjukkan peningkatan post tes hanya sebagai hasil dari pengalaman mereka dengan pre tes. Jika pemberian tes yang berulang mempengaruhi variabel hasil, peneliti mengatakan bahwa efek pengujian telah terjadi.

Efek Instrumentasi, Ancaman instrumentasi terjadi karena masalah atau ketidak konsistenan lain pada metode pengumpulan data. Ini bisa dari instrumen yang sebenarnya (salah ketik), pewawancara, perubahan pengamat, atau Penilai.

Statistik Regresi, Kemungkinan statistik regresi perlu dipertimbangkan jika semua, atau sebagian besar, dari peserta penelitian sangat tinggi atau sangat rendah pada variabel kunci dalam percobaan. Misalnya, eksperimen yang melibatkan pemuda yang sangat berbakat mungkin rentan terhadap statistik regresi pada ukuran prestasi pre tes-post tes. Masalah ini dapat dihindari jika pre tes dan post tes cukup sulit yang sebagian besar peserta penelitian tidak mendapatkan skor yang sangat tinggi.

Seleksi Diferensial, Dalam kuasi-eksperimen, peserta dipilih untuk kelompok eksperimen dan kontrol dengan prosedur selain penugasan acak. Karena peserta dalam dua kelompok telah dipilih secara berbeda, kelompok mungkin memilik inisial karakteristik yang berbeda yang mempengaruhi variabel post tes. Jika karakteristik awal yang berbeda dari kelompok yang dipilih mempengaruhi variabel hasil, peneliti mengatakan bahwa efek seleksi diferensial telah terjadi.

Interaksi Seleksi-Pematangan, Variabel asing ini mirip dengan seleksi diferensial, kecuali bahwa pematangan adalah variabel pengganggu spesifik. Misalkan kita menemukan bahwa kelompok eksperimen membuat prestasi yang jauh lebih besar daripada kelompok kontrol. Apakah hasil ini mencerminkan efektivitas eksperimen yang lebih besar? perlakuan atau efek pematangan? Karena pemilihan siswa yang berbeda ke dalam kelompok eksperimen dan kontrol, para peneliti tidak akan bisa menjawab ini pertanyaan dengan keyakinan apapun. Situasi ini disebut interaksi seleksi-pematangan efek, karena kelompok eksperimen dan kontrol berisi peserta yang berbeda tingkat perkembangan

Mortalitas Eksperimental, mortalitas eksperimental, lebih sering disebut gesekan atau atrisi, melibatkan hilangnya peserta penelitian selama perlakuan atau pengobatan eksperimental. Atrisi bisa membuatnya sulit menginterpretasikan data jika peserta yang drop out pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki karakteristik yang berbeda.

Ancaman Validitas Eksternal:

Validitas Populasi, Untuk menentukan validitas populasi, seseorang harus menilai tingkat kesamaan antara sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian, populasi yang dapat diakses, dari mana sampel penelitian diambil, dan populasi target yang lebih besar untuk yang hasil penelitiannya akan digeneralisasikan.

Variabel Personologis, Faktor lain yang mempengaruhi validitas eksternal adalah kemungkinan bahwa berbagai karakteristik pribadi sampel penelitian berinteraksi dengan intervensi eksperimental. Sebuah interaksi hadir jika hasil eksperimen berlaku untuk peserta penelitian dengan karakteristik tertentu tetapi tidak untuk mereka yang memiliki karakteristik lain.

Validitas Ekologis, Validitas ekologi adalah sejauh mana hasil eksperimen dapat digeneralisasikan ke pengaturan selain yang dipelajari. Hal tersebut tergantung pada sejauh mana kondisi situasional yang ada selama percobaan mirip dengan kondisi yang ada dalam pengaturan yang ingin peneliti terapkan hasilnya. Semakin besar perbedaan antara pengaturan eksperimental dan pengaturan lokal yang menarik bagi peneliti, semakin sedikit kepercayaan yang peneliti memiliki jika hasil percobaan akan berlaku untuk keadaan tersebut.

C.   Tahapan Penelitian

Tahapan penelitian merupakan tingkatan-tingkatan dalam melakukan aktivitas penelitian dari awal hingga akhir dengan memiliki proses tertentu secara terstruktur, runtut, dan sistematis.

Tahapan-tahapan dalam Penelitian:

1.    Tahapan Perencanaan: Pengenalan dan Identifikasi Masalah, Memformulasikan Masalah, Melangsungkan Tahapan Studi Penelitian, Memilih Sampel Penelitian, Membuat Rencana Penelitian, dan Menyusun Desain dalam Penelitian.

2.    Tahap Pelaksanaan Penelitian: Menghimpun Data dan Analisis Data

3.    Tahap Laporan Penelitian: Tahap laporan penelitian merupakan tahap akhir dalam penelitian. tahap laporan penelitian disusun untuk publikasi, sehingga penelitian dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki penelitian yang sejenis. Bentuk atau sistematika laporan penelitian dapat berbentuk skripsi, tesis,disertasi, jurnal, laporan dan artikel ilmiah.

MPK 14 Mancova

  Essai Mancova (Pert. 14 Metpen Kuan) Hidayatullah Hana Putra 210321868030   Analysis of Variance (ANOVA) merupakan metode untuk me...