Metode Penelitian Kuantitatif (Topik 8: Statistik Korelasi dan
Regresi)
Hidayatullah Hana Putra
210321868030
Statistik Korelasi
Ketika hubungan bersifat
kuantitatif, alat statistik yang tepat untuk menemukan dan mengukur hubungan
dan mengungkapkannya dalam rumus singkat ialah menggunakan korelasi. Korelasi
adalah analisis kovariasi antara dua variabel atau lebih. Dua variabel
dikatakan berkorelasi jika perubahan pada salah satu variabel mengakibatkan
perubahan yang sesuai pada variabel lainnya. Oleh karena itu, korelasi adalah
alat statistik yang mempelajari hubungan antara 2 variabel.
Dua variabel, misalnya, usia dan
tekanan darah ditemukan bervariasi dalam beberapa mode linier. Cara yang tepat
untuk menyatakan derajat hubungan linier antara keduanya adalah dengan
perhitungan koefisien korelasi. Oleh karena itu, ketika seseorang mempelajari
hubungan antara dua variabel disebut analisis korelasi sederhana, dan jika
lebih dari dua variabel maka disebut analisis multivariat.
Korelasi dapat bervariasi dari –1.0
(hubungan atau asosiasi negatif yang sempurna), 0,0 (tidak ada korelasi),
hingga +1,0 (korelasi positif sempurna). Perhatikan bahwa +1 dan -1 adalah sama
tinggi atau kuatnya, tetapi keduanya menimbulkan interpretasi yang berbeda.
Korelasi positif yang tinggi antara kecemasan dan nilai akan berarti bahwa
siswa dengan kecemasan yang lebih tinggi cenderung memiliki nilai yang lebih
tinggi nilai, mereka dengan kecemasan yang lebih rendah memiliki nilai yang
lebih rendah. Korelasi negatif yang tinggi berarti bahwa siswa dengan kecemasan
tinggi cenderung memiliki nilai rendah; begitu pula sebaliknya. Sementara
korelasi nol tidak ada asosiasi yang konsisten. Seorang siswa dengan kecemasan
tinggi mungkin memiliki nilai rendah, sedang, atau tinggi.
Tipe-tipe Korelasi
Korelasi Positif dan Negative
Korelasi Linier dan Non-Linier
Metode Pengkajian Korelasi
Ada berbagai metode untuk
mempelajari tingkat korelasi tergantung pada jenisnya variabel dan jumlah
variabel yang terlibat. Jika hanya dua variabel yang dipelajari dalam
penyelidikan, itu adalah analisis bivariat. Derajat hubungan antara dua
pengukuran variabel dapat dilakukan baik secara grafis maupun matematis.
Analisis Regresi
Analisis regresi dalam statistika
adalah salah satu metode untuk menentukan hubungan sebab–akibat antara satu
variabel dengan variabel (-variabel) yang lain. Variabel “penyebab” disebut
dengan bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel eksplanatorik,
variabel independen, atau secara bebas, variabel X (karena sering kali
digambarkan dalam grafik sebagai absis, atau sumbu X). Variabel terkena akibat
dikenal sebagai variabel yang dipengaruhi, variabel dependen, variabel terikat,
atau variabel Y. Kedua variabel ini dapat merupakan variabel acak (random),
namun variabel yang dipengaruhi harus selalu variabel acak.
Analisis regresi adalah salah satu
analisis yang paling populer dan luas pemakaiannya. Hampir semua bidang ilmu
yang memerlukan analisis sebab–akibat boleh dipastikan mengenal analisis ini.
Analisis regresi dan analisis korelasi dikembangkan untuk mengkaji dan mengukur
hubungan antara dua variabel atau lebih.
Variabel yang di estimasi itu
disebut variabel dependen (atau variabel terikat) sedangkan variabel yang
diperkirakan memengaruhivariabel dependen itu disebut variabel independen (atau
variabel bebas). Variabel dependen lazimnya dilukis pada sumbu Y (dan karenanya
diberi simbol Y) sementara variabel independen dilukis pada sumbu X (dan
karenanya diberi simbol X). Berdasarkan konsep ini" maka hubungan antara
variabel Y dan X dapat diwakili dengan sebuah garis regresi. Di samping untuk
mengestimasi, analisis regresi juga digunakan untuk mengukur tingkat
ketergantungan.
Prasyarat Regresi linier Sederhana
Seorang peneliti yang menganalisis
data penelitiannya dengan analisa regresi, harus mengacu kepada kriteria atau
persyaratan agar hasil penelitiannya benar-benar dapat diterima masyarakat.
Kriteria yang harus dipenuhi tersebut adalah instrumen penelitian (kuesioner)
terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas kemudian dilakukan uji
asumsi klasik dan selanjutnya uji hipotesis (uji t dan uji F), membuat
persamaan regresi dan menganalisis koefisien determinasi (R2).
Model kelayakan regresi linier didasarkan pada hal-hal sebagai
berikut:
1.
Model regresi dikatakan layak jika angka signifikansi pada ANOVA
sebesar < 0,05.
2.
Prediktor yang digunakan sebagai variabel bebas harus layak.
Kelayakan ini diketahui jika angka Standard Error of Estimate < Standard
Deviation.
3.
Koefesien regresi harus signifikan. Pengujian dilakukan dengan Uji
t. Koefesien regresi signifikan jika thitung > ttabel (nilai kritis).
4.
Tidak boleh terjadi multikolinieritas, artinya tidak boleh terjadi
korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah antar variabel bebas. Syarat ini
hanya berlaku untuk regresi linier berganda dengan variabel bebas lebih dari
satu.
5.
Tidak terjadi otokorelasi. Terjadi otokorelasi jika angka Durbin
dan Watson (DB) sebesar < 1 dan > 3.
6.
Keselerasan model regresi dapat diterangkan dengan menggunakan
nilai rm2 semakin besar nilai tersebut maka model semakin baik. Jika nilai
mendekati 1 maka model regresi semakin baik. Nilai rm2 mempunyai karakteristik
diantaranya: o Selalu positif o Nilai rm2 maksimal sebesar 1. Jika Nilai r2
sebesar 1 akan mempunyai arti kesesuaian yang sempurna. Maksudnya seluruh
variasi dalam variabel Y dapat diterangkan oleh model regresi. Sebaliknya jika
rm2 sama dengan 0, maka tidak ada hubungan linier antara X dan Y.
7.
Terdapat hubungan linier antara variabel bebas (X) dan variabel
tergantung (Y).
8.
Data harus berdistribusi normal.
9.
Data berskala interval atau rasio.
10. Kedua variabel bersifat dependen,
artinya satu variabel merupakan variabel bebas (disebut juga sebagai variabel
prediktor) sedang variabel lainnya variabel tergantung (disebut juga sebagai
variabel response).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar