Essai Metode Penelitian Kuantitatif (Topik 7) Cek data Validitas,
Reabilitas, dan asumsi
Hidayatullah Hana Putra
210321868030
VALIDITAS
Validitas atau kesahihan berasal
dari kata validity yang berarti sejauh mana ketetapan dan kecermatan suatu alat
ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Dengan kata lain, validitas adalah suatu
konsep yang berkaitan dengan sejauh mana instrument pengumpulan data telah
telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Reabilitas yang berasal dari kata
reliability berarti sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. . Uji
reabilitas menunjukkan bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan
sebagai alat mengumpulkan data karena instrumen tersebut sudah dianggap baik
dan dapat digunakan dalam pengambilan data penelitian.
Dalam pengujian instrument terdapat
dua jenis validitas, secara umum terbagi menjadi dua yaitu validitas secara
rasional dan validitas secara empiris.
1. Validitas rasional memiliki nama lain, yaitu validitas logis, validitas ideal dan
validitas das sollen. Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh atas
dasar hasil pemikiran, validitas yang diperoleh dengan berpikir secara logis.
Untuk dapat menentukan apakah instrument itu memang memiliki validitas rasional
atau belum, dapat dilakukan penelusuran dari dua segi, yaitu dari segi isi
(validitas isi) dan dari segi susunan (validitas konstruk).
2. Validitas Empirik atau validitas kriteria suatu instrument ditentukan berdasarkan
data hasil ukur instrument yang bersangkutan, baik melalui uji coba maupun
melalui tes atau pengukuran yang sesungguhnya. Validitas empiric diartika
sebagai validitas yang ditentukan kriteria, baik kriteria internal maupun
kriteria eksternal. Untuk dapat menentukan apakah instrument itu memang
memiliki validitas empiric atau belum, dapat dilakukan penelusuran dari dua
segi, yaitu dari segi daya kecepatan meramal (predictive validity) dan segi
daya ketepatan banding (concurrent validity).
REABILITAS
Pengertian reliabilitas menunjuk
pada ketetapan (konsistensi) dari nilai yang diperoleh sekelompok individu
dalam kesempatan yang berbeda dengan test yang sama ataupun yang itemnya
ekuivalen. Konsep reliabilitas mendasari kesalahan ukur yang mungkin terjadi
pada nilai tunggal tertentu, sehingga susunan dari kelompok mungkin berubah.
Reliabel lebih mudah dimengerti, dengan memperhatikan tiga aspek dari suatu
alat ukur, yaitu : kemantapan, ketepatan, dan homogenitas.
Contoh, umpamanya kita menimbang
badan kita pada suatu timbangan dan jarum menunjukan angka 59. Tak lama
kemudian kita coba timbangan itu, ternyata menunjuk angka 63. Kita katakan
bahwa terjadi kesalahan pengukuran , timbangan tersebut tidak reabel. Bila kita
ingin mengetahui ketetapan dari alat pengukur pada sekelompok individu yang
berbeda dari populasi tersebut, maka kita berbicara tentang kemungkinan
kesalahan pengukuran sampel (sampling error).
Faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas
1.
Banyaknya Butir Soal: Banyaknya soal pada instrumen ikut
mempengaruhi derajat reliabilitas, sebagaimana dinyatakan dalam rumus Spearman,
Brown.
2.
Range skor total : Makin besar range skor total, alat ukur makin
reliabel, karena menunjukkan bahwa subyek uji coba heterogen.
3.
Homogenitas item: Soal yang memili homogenitas tinggi cenderung
mengarah kepada tingginya tingkat reliabilitas. Dua buah tes yang sama jumlah
butir-butirnya akan tetapi berbeda isinya, misal yang satu mengukur pengetahuan
kebahasaan dan yang lainnya mengukur kemampuan kimia, akan menghasilkan tingkat
reliabilitas yang berbeda. Tes kimia cenderung menghasilkan tingkat
reliabilitas yang lebih tinggi daripada tes kebahasaan karena segi isi
kemampuan menyelesaikan soal kimia lebih homogen daripada pengetahuan
kebahasaan. Makin homogen aitem, makin reliabel.
4.
Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tes: Semakin terbatasnya
waktu dalam pengerjaan tes, maka akan mendorong tes cenderung memiliki
reliabilitas yang tinggi.
5.
Keseragaman kondisi pada saat tes diberikan: Kondisi pelaksanaan
tes semakin seragam akan memunculkan reliabilitas yang makin tinggi.
6.
Kecocokan tingkat kesukaran terhadap peserta tes: Bahwa soal-soal
dengan tingkat kesukaran sedang, cenderung lebih reliable dibandingkan dengan
soal-soal yang sangat sukar maupun sangat mudah. Tingkat kesulitan butir soal,
butir yang terlalu mudah atau terlalu sulit, reliabilitas rendah. Tingkat
kesulitan yang baik berkisar 0.25 s/d 0.75.
7.
Heteroginitas kelompok : Bahwa semakin heterogen kelompok dalam
pengerjaan tes, maka tes tersebut semakin cenderung untuk menunjukkan tingkat
reliabilitas yang tinggi.
8.
Variabilitas skor : Instrumen yang menghasilkan rentangan skor yang
Dalam
penelitian, asumsi/anggapan dasar sangat diperlukan
untuk dirumuskan secara jelas sebelum melangkah mengumpulkan data. Hal-hal yang mendasari pentingnya peneliti membuat asumsi yaitu:
1)
Asumsi menjadi dasar berpijak yang kokoh bagi masalah yang sedang diteliti.
2)
Asumsi mempertegas variable yang menjadi fokus penelitian.
3)
Asumsi membantu dalam menentukan dan merumuskan hipotesis.
Asumsi merupakan suatu keadaan yang dengan sengaja dimuculkan oleh peneliti
sebagai bentuk penyederhanaan kenyataan yang begitu kompleks. Dengan kata lain,
asumsi juga bisa disebut sebagai aturan praktis. Asumsi juga dapat diartikan
sebagai suatu landasan berpikir yang dianggap benar walaupun hanya untuk
sementara. Hal ini dikarenakan asumsi bukanlah suatu kepastian.
Asumsi sangat diperlukan dalam penelitian sebagai batas jangkauan
penelitian. Dalam menyusun hipotesis, diperlukan asumsi bahwa ada perbedaan
antara parameter populasi yang diwakili oleh sampel, misalnya peneliti mungkin
memprediksi bahwa populasi A yang diwakili oleh sampel A akan memiliki nilai
rata-rata yang lebih tinggi pada Tes Keterampilan Dasar daripada populasi B yang
diwakili oleh sampel B. Untuk menentukan hipotesis, peneliti perlu memberikan
asumsi bahwa hal tersebut benar pada dasar teori atau temuan penelitian
penelitian sebelumnya.
Kemudian dalam uji stattistk parametrik dibuat beberapa asumsi tentang nilai
populasi yang diwakili oleh sampel yang digunakan dalam suatu penelitian. Salah
satu asumsi utama yang digunakan adalah bahwa nilai populasi pada ukuran yang
digunakan dalam studi penelitian berdistribusi normal. Asumsi lainnya adalah
bahwa varians nilai dalam populasi yang dibandingkan adalah sama. Peneliti
biasanya menggunakan tes parametrik jika asumsi ini tidak dilanggar. Namun, jka
asumsi ini dlanggar, maka peneliti menggunakan unji statistik nonparametrik. Dalam
penelitian dengan metode kombinasi pun, asumsi dasar yang digunakan dalam kedua
metode kuantitatif dan kualitatif memberikan pemahaman yang lebih baik tentang
masalah dan pertanyaan penelitian daripada masing-masing metode itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar