Minggu, 26 September 2021

 Statistik Inferensial Kel. 3: Uji Prasarat Analisis: Normalitas, Homogenitas dan Linieritas

Hidayatullah Hana Putra

210321868030

 

UJI PRASARAT ANALISIS: NORMALITAS, HOMOGENITAS DAN LINIERITAS

Uji Normalitas

Uji normalitas adalah pengujian data untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data perlu dilakukan agar peneliti dapat menentukan jenis statistik apa yang akan digunakan. Jika data yang akan diolah berasal dari populasi yang terdistribusi normal dapat menggunakan statistik parametrik. Jika data tidak terdistribusi normal dapat menggunakan statistik non-parametrik. Uji normalitas data perlu dilakukan khususnya bagi penelitian yang menggunakan parameter rata-rata (mean) sebagai tolak ukur keberhasilan penelitian. Penelitian kuantitatif atau eksperimen di bidang pendidikan sering menggunakan parameter rata-rata (mean) untuk menarik kesimpulan.

Uji Normalitas dapat menggunakan metode Kolmogorv-Smirnov yaitu mencari simpangan terbesar (D) dari fungsi distribusi kumulatif data observasi (empiris) terhadap fungsi distribusi kumulatif teoritis. Apabila penyimpangan maksimum tidak terlalu besar maka data observasi terdistribusi normal. Namun, jika penyimpangan maksimum sangat besar maka data observasi tidak terdistribusi normal. Jika D < k maka data terdistribusi normal. Jika D > k maka data tidak terdistribusi normal. Jika nilai P-Value /Sig pada output software lebih besar dari dengan taraf signifikansi (a = 0,05) maka data sampel yang diuji berasal dari populasi terdistribusi normal dan begitu juga sebaliknya (Nasrum, 2018).

 

Uji Homogenitas

Homogenitas varians didefinisikan sebagai situasi saat dua atau lebih populasi memiliki varians yang sama 𝜎1 2 = 𝜎2 2 (Howell, 2011). Salah satu pendekatan yang digunakan untuk membandingkan kelompok-kelompok data adalah menggunakan sampel yang homogen dengan memilih subjek yang memiliki sedikit keberagaman pada karakteristik personalnya. Jika jumlah subjek yang dapat diterima yang memiliki skor yang sama dapat ditemukan, subjek ini ditetapkan secara acak dan eksperimen dilakukan sebagai eksperimen kelompok acak konvensional. Masalah utama dengan metode ini adalah seringkali sangat sulit untuk menemukan jumlah subjek yang cukup dengan skor yang sama pada ukuran keberagaman (Huitema, 2011).

Misalnya diasumsikan bahwa siswa dikelompokkan menjadi dua kelas (satu kelas menerima pembelajaran khusus tentang bahaya kesehatan kerja, kelas satunya tidak) memiliki kesamaan karakteristik seperti rata-rata nilai akademik, jenis kelamin, ras, atau kemampuan utamanya. Maka, seringkali diasumsikan bahwa varians akan tetap sama dan data akan dianggap berasal dari populasi yang sama (homogen).

 

Jenis-jenis Uji Homogenitas

Uji Bartlett Tujuan dari uji Bartlett pada mulanya adalah untuk menguji homoskedastisitas dari dua populasi yang terdistribusi normal (Bartlett, 1937). Selanjutnya uji ini dikembangkan oleh Snecedor and Chocran pada tahun 1989 untuk menguji kesamaan varians dari banyak populasi.

Uji Hartley atau Uji Fisher Uji ini merupakan uji lain yang umum digunakan untuk menguji perbedaan signifikan dari varians yang memiliki banyak sampel dengan ukuran sampel yang sama (Hartley, 1950). R. A. Fisher mempublikasikan temuannya tentang analisis varians pada tahun 1930. Temuannya menyumbang pengetahuan yang besar di dunia statistic dan masih digunakan hingga saat ini. Uji Hartley/Fisher dapat digunakan ketika ukuran sampelnya mendekati sama dan data terdistribusi normal.

Uji Levene Tujuan dari Uji Levene adalah untuk mengetahui perbedaan dari dua kelompok data yang memiliki perbedaan varians.

 

Pengertian Uji Prasyarat Linieritas

Menurut Muwarni, Sentosa (2001) uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Uji ini digunakan sebagai prasyarat statistik parametrik. Data yang baik seharusnya terdapat hubungan yang linear antara variabel predictor (X) dengan variabel kriterium (Y) dalam beberapa referensi dinyatakan bahwa uji linearitas merupakan syarat sebelum dilakukannya uji regresi linier. Suatu uji yang dilakukan harus berpedoman pada dasar pengambilan keputusan dalam uji linearitas yaitu jika nilai signifikansi lebih besar dari 0.05, maka kesimpulannya adalah terdapat hubungan linier antara variabel predictor (X) dengan variabel kriterium (Y), sebaliknya, jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05, maka kesimpulannya adalah tidak terdapat hubungan linier antara variabel predictor (X) dengan variabel kriterium (Y) (Riduwan, 2008).

Hasil yang diperoleh melalui uji linieritas akan menentukan teknikteknik analisis data yang dipilih, dapat digunakan atau tidak (Subana, 2000). Apabila dari hasil uji linieritas didapatkan kesimpulan bahwa distribusi data penelitian dikategorikan linier maka data penelitian dapat digunakan dengan metode-metode yang ditentukan. Demikian juga sebaliknya apabila ternyata tidak linier maka distribusi data harus dianalisis dengan metode lain (Widiyanto, Mikha. 2008).

 

 

 

Metode Penelitian Kuantitatif Kel. 6 Pengumpulan Data

Hidayatullah Hana Putra

210321868030

PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data adalah proses mengumpulkan dan menganalisis informasi spesifik untuk untuk selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis dalam rangka menjelaskan suatu fenomena. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa metode pengumpulan data terdiri dari berbagai macam bentuk, di mana setiap metode tersebut membutuhkan instrumen sebagai alat bantu mengumpulkan data. Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan terpenting dalam melakukan suatu penelitian.

Instrumen merupakan alat bantu bagi peneliti dalam menggunakan metode atau pengumpulan data. Pemilihan satu jenis metode atau pengumpulan data kadang[1]kadang dapat memerlukan lebih dari satu jenis instrumen. Sebaliknya satu jenis instrumen dapat digunakan untuk berbagai macam metode.

Pengumpulan Data Melalui Wawancara

Beberapa hal yang dapat membedakan wawancara dengan percakapan sehari-hari antara lain:

1.      Pewawancara dan orang yang diwawancarai biasanya tidak mengetahui sebelumnya.

2.      Responden selalu menjawab pertanyaan.

3.      Pewawancara selalu bertanya.

4.      Pewawancara tidak akan mengarahkan pertanyaan untuk dijawab, tetapi harus selalu netral.

5.      Pertanyaan yang diajukan mengikuti pedoman yang dibuat sebelumnya.

6.      Pertanyaan kunci ini disebut pedoman wawancara. Ketika peneliti ingin melakukan penelitian pendahuluan untuk menemukan masalah yang perlu diselidiki, peneliti menggunakan wawancara untuk mengumpulkan data.

Selain itu, wawancara juga digunakan ketika peneliti ingin mempelajari sesuatu dari orang yang diwawancarai lebih mendalam dan jumlah orang yang diwawancarai sedikit. Untuk melakukan wawancara, asumsi harus atau harus dibuat, yaitu:

1.      Penguji atau orang yang diwawancarai adalah orang yang paling mengenalnya.

2.      Apa yang dikatakan subjek kepada peneliti adalah faktanya.

3.      Interpretasi subjek terhadap pertanyaan yang diajukan peneliti sama dengan maksud peneliti.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, wawancara sebaiknya dilakukan 5 dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1.      Penentuan Informan

2.      Pedoman Wawancara

3.      Alat Bantu

Pengumpulan Data Melalui Observasi

Observasi merupakan salah satu metode pengumpulan data dalam pembuatan karya tulis ilmiah. Nawawi dan Martini telah menunjukkan bahwa observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap unsur-unsur yang tampak pada gejala atau gejala yang tampak pada subjek penelitian. Pengamatan ini dicatat dalam laporan yang dibangun sesuai dengan sistem aturan yang berlaku. Sedangkan menurut Profesor Heru, observasi adalah sejenis penelitian yang dilakukan secara sadar dan sistematis, bertujuan untuk tujuan tertentu, dengan mengamati dan mencatat fenomena yang terjadi pada sekelompok orang, dan mengacu pada syarat dan kaidah ilmiah riset.

Pengamatan memiliki dua prioritas indera, yaitu telinga dan mata. Kedua indra harus sangat sehat. Saat mengamati, mata memiliki keunggulan dibandingkan telinga. Mata ini memiliki kelemahan yang membuatnya mudah lelah. Untuk mengatasi kelemahan biologis tersebut, perlu dilakukan hal-hal

1.      Dengan menggunakan kesempatan yang lebih banyak untuk melihat data-data.

2.      Dengan menggunakan orang lain untuk turut sebagai pengamat (observers).

3.      Dengan mengambil data-data sejenis lebih banyak.

Usaha-usaha untuk mengatasi kelemahan yang bersifat psikologis, yaitu :

1.      Dengan meningkatkan daya penyesuaian (adaptasi).

2.      Dengan membiasakan diri.

3.      Dengan rasa ingin tahu.

4.      Dengan mengurangi prasangka.

5.      Dengan memiliki proyeksi.

 

Pengumpulan Data Melalui Tes

Pengumpulan data melalui tes dilakukan oleh peneliti dengan tujuan untuk mengetahui atau mengukur keterampilan atau kemampuan seorang individu. Tes merupakan seperangkat rangsangan (stimulus) yang dapat berupa instrumen yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar penetapan skor angka. Tes umumnya digunakan pada penelitian kuanitiatif untuk mengukur sikap, persepsi diri, bakat, dan kemampuan seseorang. Tes dapat berupa tes lisan dan tes tertulis (esai, objektif benar salah, uraian, pilihan ganda, dan lain sebagainya). Tes adalah seperangkat rangsangan (stimulus) yang dapat berupa instrumen yang diberikan untuk mengukur sikap, persepsi diri, bakat, dan kemampuan seseorang.

Pengumpulan Data Melalui Kuesioner

Kuesioner sejatinya merupakan instrumen penelitian yang terdiri atas seperangkat atau beberapa pertanyaan maupun petunjuk yang ditujukan kepada individu dalam rangka memperoleh dan mengumpulkan informasi dari individu tersebut (Abawi, 2017). Kuesioner dipandang sebagai instrumen pengumpulan data yang biasanya digunakan peneliti untuk memperoleh informasi sikap, nilai, persepsi, kepribadian, dan perilaku seorang individu. Kuesioner memungkinkan pengumpulan data secara subyektif dan obyektif secara dari populasi penelitian agar diperoleh hasil yang signifikan secara statistik, khususnya ketika sumber daya peneliti bersifat terbatas.

Beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mendesain dan membuat kuesioner ialah:

1.       Menentukan tujuan penelitian Kuesioner harus memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data secara lengkap dan akurat. Hal ini dimaksudkan agar data yang telah diperoleh tersebut dapat dipercaya. Kuesioner yang dirancang dengan baik harus memenuhi tujuan penelitian serta meminimalkan pertanyaan yang tidak terjawab.

2.       Tentukan target responden dan metode untuk menghubungi mereka.

Peneliti harus mendefinisikan target dengan jelas serta memahami secara menyeluruh studi populasi dari mana dia mengumpulkan data dan informasi. Metode utama untuk menjangkau responden adalah dengan kontak pribadi

3.       Mendesain kuesioner Sebelum menulis kuesioner, peneliti harus memutuskan isi kuesioner. Setiap pertanyaan harus berkontribusi untuk menguji satu atau lebih hipotesis atau pertanyaan penelitian yang ditetapkan dalam desain penelitian. Pertanyaan bisa berupa pertanyaan format terbuka yang tidak memiliki kumpulan pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya aupun pertanyaan format terutup yang biasanya berbentuk pilihan ganda. Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mendesain kuesioner ialah: a) Kejelasan (pertanyaan memiliki arti yang sama untuk semua responden). b) Frase (kalimat pendek dan sederhana, hindari perrnyataan negatif jika memungkinkan, tanyakan dengan tepat pertanyaan, sesuai dengan tingkat pengetahuan responden) c) Pertanyaan sensitif: hindari pertanyaan yang mungkin memalukan bagi responden. d) Pertanyaan hipotetis harus dihindari jika memungkinkan.

4.       Menguji coba kuesioner Uji coba kuesioner dimaksudkan sebagai pra-tes kuesioner, sehingga peneliti dapat mengetahui kendala atau kekurangan pada kuesioner yang telah dibuatnya sehingga masalah tersebut dapat diantisipasi lebih awal. Selama uji coba kuseioner, peserta kuesioner harus dipilih secara acak dari populasi penelitian.

 


Metode Penelitian Kuantitatif (SAMPEL)

Essai Makalah kelompok 5

Judul: Sampel

Oleh: Hidayatullah Hana Putra

NIM: 210321868030

SAMPEL

A.  Probability Sampling

Didalam penelitian ada dua Teknik pengambilan data yaitu probability sampling dan non-probability sampling. Makalah ini akan membahas mengenai probability sampling saja. Secara garis besar dapat dikatakan probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel dengan cara acak sedemikian rupa. Teknik pengambilan sampel ini memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk terpilih menjadi anggota sampel sehingga sampling memiliki peluang resiko bias yang lebih kecil dibandingkan non-probability sampling (Cohen, 2007: McMillan, 1996; Sugiyono, 2013).

Teknik probability sampling terbagi menjadi simple random sampling, Menentukan target populasi Menentukan kerangka dan teknik pengambilan sampel Menentukan ukuran sampel Menentukan sampel Melaksanakan pengambilan data penelitian Menilai tingkat respon 6 systematic sampling, stratified sampling, dan cluster sampling. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing teknik pengambilan sampel tersebut.

Simple Random Sampling (Pengambilan Sampel Acak Sederhana)

Teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan menggunakan cara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi (Sugiyono, 2013). Pengambilan sampel dengan teknik ini memungkinkan setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel (Pazzaglia et al., 2016; Sugiyono, 2013; Taherdoost, 2016; Winarno, 2013). Teknik pengambilan sampel ini biasanya digunakan pada penelitian dengan populasi yang kecil (McMillan, 1996). Teknik ini sebaiknya digunakan pada populasi homogen agar sampel yang dipilih dapat merepresentasikan keseluruhan populasi (Cohen, 2007). Apabila teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan benar maka peneliti dapat meyakini bahwa hasil penelitian yang diperoleh dari sampel dapat digeneralisasikan pada populasi (Pazzaglia et al., 2016).

Systematic Sampling (Pengambilan Sampel Sistematis)

Jadi, dalam pengambilan sampel sistematik hanya unit pertama yang dipilih secara acak dan unit sampel yang tersisa akan dipilih dalam rentang tertentu, tidak seperti sampel acak dalam arti sebenarnya. Pelaksanaan metode ini sangat mudah, lebih murah dan nyaman digunakan jika populasinya lebih besar (Etikan and Bala, 2017). Teknik pengambilan sampel sistematis ini dilakukan dengan memberikan nomor urut pada setiap anggota populasi, misalnya 100 orang populasi diberikan nomor urut 1 sampai dengan 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mengambil Populasi relatif homogen Sampel yang representatif Dipilih secara acak 9 nomor genap atau ganjil saja, atau dapat pula dengan memilih berdasarkan kelipatan tertentu. Contohnya, sebuah populasi terdiri dari 150 orang dan sampel diambil pada setiap kelipatan 5 sampai dengan jumlah sampel yag diinginkan terpenuhi (contoh : 5, 10, 15, dan seterusnya).

 

Stratified Random Sampling (Pengambilan Sampel Berstrata)

Stratified Sampling adalah sampling yang dilakukan Jika strata atau tingkatan pada suatu populasi menjadi faktor yang diperhatikan (Arieska and Herdiani, 2018). Menurut McMillan (1996), penggunaan teknik ini dilakukan dengan dua alasan utama, yaitu : 1) Selama subkelompok masih teridentifikasi oleh variabel yang terkait dengan variabel dependen dalam penelitian dan hasilnya lebih banyak kelompok homogen, sampel akan lebih representatif dibandingkan jika diambil dari keseluruhan populasi. 2) Teknik ini memastikan jumlah yang cukup dari sampel yang dipilih dari subkelompok berbeda. Teknik pengambilan sampel ini terbagi menjadi dua, yaitu:

1.    Proportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan pada populasi yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional (Sugiyono, 2013)

2.    Disproporsionate Stratified Random Sampling

Teknik pengambilan sampel ini digunakan apabila sampel berstrata tetapi kurang proporsional (Sugiyono, 2013). Contohnya, apabila karyawan suatu perusahaan mempunyai; 100 orang lulusan SMA, 120 orang lulusan SMK, 200 orang lulusan S1, 15 orang lulusan S2, dan 5 orang lulusan S3, maka lima belas orang lulusan S2 dan lima orang lulusan S3 tersebut diambil semuanya sebagai sampel penelitian. Hal ini dilakukan karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok lainnya.

Cluster / Area Sampling

Teknik pengambilan sampel jenis ini biasanya digunakan untuk menentukan sampel bila sumber data sangat luas (Sugiyono, 2013). Beberapa tahapan dari cluster sampling menurut (Taherdoost, 2016) adalah sebagai berikut.

1.    Pilih pengelompokan cluster untuk kerangka sampling, seperti wilayah geografis, status sekolah, jenis perusahaan, dan sebagainya.

2.    Berikan nomor pada masing-masing cluster.

3.    Pilih sampel secara acak dari cluster yang dipilih.

 

B.  Kegunaan Pengambilan Sampel (Sampling)

1.    Mempercepat pelaksanaan penelitian

Penelitian yang hanya dilakukan terhadap sampel akan lebih cepat selesai. Penelitian yang dilakukan terhadap obyek yang banyak (keseluruhan populasi) akan membutuhkan waktu yang relative lama bila dibandingkan dengan hanya terhadap sampel saja.

2.    Menghemat tenaga

Penelitian yang dilakukan terhadap sample akan memerlukan lebih sedikit tenaga dibandingkan jik apenelitian seluruh populasi.

3.    Menghemat biaya

Penelitian yang dilakukan terhadap seluruh obyek (populasi) yang diteliti, sudah pasti akan membutuhkan banyak biaya. Oleh karena itu, dengan sampling sebagai perwakilan/ representari dari suatu populasi sudah cukup digunakan untuk memenuhi data penelitian, dalam arti penelitian hanya dilakukan terhadap sebagian populasi, akan meminimalisir biaya yang dikeluarkan.

Alasan Peneliti menggunakan Sampel

1.    Ukuran populasi

Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena itu sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.

2.    Masalah biaya

Besar kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih–lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.

3.    Masalah waktu

Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu, apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel,dalam hal ini, lebih cepat.

4.    Percobaan yang sifatnya merusak

Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel (Margono, S, 2004).

5.    Masalah ketelitian

Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat dipertanggung jawabkan. Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua,penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.

6.    Masalah ekonomis

Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada penelitian populasi.

Penentuan Jumlah Sampel

Hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan homogenitas dan heterogenitas populasi. (Hadi, Amirul, 1998) Jika keadaan populasi homogen, jumlah sample hampir-hampir tidak menjadi persoalan, sebaliknya, jika keadaan populasi heterogen, maka pertimbanagna pengambilan sample harus memperhatikan hal:

1.    Harus diselidiki kategori-kategori heterogenitas.

2.    Besarnya populasi dalam tiap kategori

Petunjuk Pengambilan Sampel

Petunjuk –petunjuk untuk mengambil sampel :

1.    Daerah generalisasi Yang penting disini adalah menentukan dahulu luas populasinnya sebagai daerah generalisasi, selanjutnya barulah menentukan sampelnya sebagai daerah penelitiannya. Di sampling itu, yang penting adalah : “ kalau yang diselidiki hanya satu kelas saja, jangan diperluas sampai kelas-kelas lainnya apalagi menyimpulkan untuk sekolah-sekolah lain”.

2.    Pengesahan sifat-sifat populasi dan ketegasan batas-batasnya (Mahmud, 2011) Bila luas populasinya telah ditetapkan, harus segera diikuti penegasan tentang sifat-sifat populasinnya. Penegasan ini sangat penting bila menginginkan adanya valliditas dan reabilitas bagi penelitiannya. Oleh sebab itu, haruslah ditentukan terlebih dahulu luas dan sifat-sifat populasi, dan memberikan batas-batas yang tegas, kemudian menetapkan sampelnya. Jangan terjadi kebalikannya,yaitu menetapkan populasilah yang lebih dahulu baru kemudian sampelnya.

3.    Sumber-sumber informasi tentang populasi Untuk mengetahui ciri-ciri populasinya secara terperinci dapat diperoleh melalui bermacam-macam sumber informasi tentang populasi tersebut. Misalnya, sensus penduduk dokumen-dokumen yang disusun oleh instansi-instansi dan organisasi-organisasi, seperti pengadilan, kepolisian, kantor P & K, kantor kelurahan, dan sebagainnya. Meskipun demikia, haruslah diteliti kembali apakah informasi tersebut telah menunjukkan validitasnya (kesahihan) . Hal itu perlu karena jangan sampai terjadi data tahun 1954 masih dipakai sebagia sumber untuk tahun 1965, misalnya bila tahun 1954 tercatat jumlah anak rata-rata dalam seiap keluarga 4 orang, maka pada tahun 1965 jumlah anak rata-rata mungkin tidak seperti itu (4 orang).

4.    Menetapkan besar kecilnya sampel, Mengenai berapa besar kecilnya sampel yang harus diambil untuk sebuah penelitian, memang tidak ada ketentuan yang pasti.

5.    Menetapkan teknik sampling Dalam masalah sampel, ada yang disebut biased sampel, yaitu sampel yang tidak mewakili populasi atau disebut juga dengan sample yang menyeleweng. Pengambilan sampel yang menyeleweng disebut : biased sampling. (Sukmadinata, Nana, 2010) Biased sampling adalah pengambilan sampel yang tidak dari seluruh populasi, tetapi hanya dari salah satu golongan populasi saja, tetapi generalisasinya dikenakan kepada seluruh populasi. Contoh : misalnya mengadakan penelitian tentang penghasilan rata-rata orang indonesia hanya diambil sample yang kaya raya saja, ataupun hanya yang melarat? miskin saja. Dengan sendiriny akan mengakibatkan adaanya kesimpulan yang menyeleweng atau disebut biased conclusion. 

Sabtu, 18 September 2021

 Tugas StatIn Essai Kelompok 2

ESSAI UJI VALIDITAS DAN REABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN

Oleh: Hidayatullah Hana Putra

Nim: 210321868030

 

Validitas secara makna berarti kebermaknaan (meaningfull), kemanfaatan (usefulness) dan ketepatan (appropriateness) (Kusaeri dan Suprananto 2012). Manfaat dan ketepatan suatu instrumen yang digunakan dapat diamati berdasarkan validitasnya. Menurut Azwar (1987) validitas adalah tingkat ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukur (tes) dalam melakukan fungsi ukurnya. Fungsi ukur menjadi dasar penentuan validitas suatu instrumen. Fungsi ukur yang dimaksud disini adalah sejauh mana instrumen tersebut mampu pengukur apa yang kita ingin. Sejalan dengan pendapat diatas Suryabrata (2000) menyatakan bahwa validitas merupakan tingkatan fungsi pengukuran atau kecermatan ukur suatu tes yang menggambarkan apakah tes tersebut benar-benar mengukur apa yang ingin diukur.

Validitas merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh suatu instrumen agar dapat digunakan dalam penelitian. Instrumen yang baik tentunya memilki validitas yang tinggi. Validitas secara umum terbagi menjadi dua yaitu validitas internal (logis) dan validitas eksternal (empiris). Menurut Sugiyono (2011) bila kriteria yang ada dalam instrumen secara rasional, mampu mencerminkan objek apa yang diukur maka instrumen tersebut dikatakan mempunyai validitas internal (logis), sedangkan validitas eksternal (empiris) menyatakan bahwa suatu instrumen dapat digunakan pada sampel lain sehingga kesimpulan dapat digeneralisasi.

Macam-macam uji validitas: 1. Validitas Internal (logis) Validitas internal adalah validitas yang berkaitan dengan kemampuan suatu instrumen untuk menggambarkan objek penelitian secara logis dan masuk akal. Cohen, dkk (2007) berpendapat bahwa hasil yang didapatkan harus menggambarkan fenomena secara akurat. Validitas isi (content validity) sering pula dinamakan validitas kurikulum yang mengandung arti bahwa suatu alat ukur dipandang valid apabila sesuai dengan isi kurikulum yang hendak diukur (Syarif & Syamsurizal, 2019). Validitas isi disusun berdasarkan kedalaman dan keluasan materi yang ingin diukur. Menurut Sugiyono (2011) instrumen yang harus mempunyai validitas isi (content validity) adalah instrumen dengan bentuk tes yang sering digunakan untuk mengukur prestasi belajar dan mengukur efektivitas pelaksanaan program dan tujuan. Validitas Konstruksi (Construct Validity) mengandung arti bahwa suatu alat ukur (dikatakan valid apabila telah cocok dengan konstruksi teoritik dimana tes itu dibuat. Validitas konstruksi menekankan pada sejauh mana suatu instrumen penelitian mengukur konsep dari suatu teori yang menjadi dasar penyusunan instrumen. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila soal-soalnya mengukur setiap aspek berpikir seperti yang diuraikan dalam standar kompetensi, kompetensi dasar, maupun indikator yang terdapat dalam kurikulum. 2. Validitas Eksternal (empiris) Empiris berarti pengalaman artinya validitas empiris merupakan validitas yang didasari pengalaman. Sebuah instrumen dapat dikatakan validitas secara empiris (validitas eksternal) jika instrumen sudah diuji dari pengalaman yang telah dilewati. Validitas eksternal merujuk pada data yang dihasilkan oleh suatu instrumen sesuai dengan informasi atau keterangan dari sumber lain yang terkait dengan variabel penelitian yang dimaksud. Validitas prediksi (predictive validity) merupakan ketepatan suatu instrumen dalam meramalkan atau memprediksi sesuatu untuk masa datang, atau merupakan tingkat kesesuaian antara hasil pengukuran dan kinerjanya di masa yang akan datang dalam aspek yang diukur. Validitas Bersamaan (Concurrent Validity) Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Jika ada istilah “sesuai” tentu ada dua hal yang dipasangkan. Validitas ini ditentukan dengan membangun analisis hubungan (korelasi).

Reliabilitas merujuk pada ketepatan pengukuran. Creswell (2012) menyatakan reliabilitas artinya skor dari suatu instrumen harus stabil dan konsisten. Sedangkan menurut Sugiyono (2018), suatu instrumen dikatakan reliabel jika instrumen yang bila digunakan beberapa kali di waktu yang berbeda untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan skor yang sama. Oleh karena itu, uji reliabilitas merupakan uji yang dilakukan untuk mengukur konsistensi suatu alat ukur, agar dapat mengetahui sejauh mana alat ukur tersebut dapat diandalkan dan dapat menghasilkan data yang konsisten bila digunakan berulang. Reliabilitas merupakan syarat yang perlu tetapi tidak memadai untuk menentukan validitas instrumen. Instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, namun instrumen yang reliabel belum tentu validitasnya (Sugiyono, 2018). Reliabilitas terkait pula dengan kesalahan pengukuran. Reliabilitas tinggi menunjukkan kesalahan yang kecil dalam memeroleh hasil pengukuran. Semakin besar reabilitas suatu instrumen, maka semakin kecil kesalahan pengukuran.

Tinggi rendahnya reliabilitas dinyatakan dalam suatu nilai yang disebut koefisien reliabilitas. Reliabilitas I suatu tes pada umumnya diungkapkan secara numerik dalam bentuk koefisien yang besarnya -1,00 £ r £ +1,00. Koefisien tinggi menunjukkan reliabilitas tes tinggi. Sebaliknya, jika koefisien suatu skor rendah maka reliabilitas tes rendah. Jika suatu reliabilitas sempurna, berarti koefisien reliabilitas tersebut +1,00. Harapannya, koefisien reliabilitas bersifat positif. Adapun angka interpretasi koefisien reliabilitas menurut Sugiyono (2018) dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini.

Table

Description automatically generated
 

 

 

 

 

 

 


Sugiyono (2018) menyatakan pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan dua cara baik pengujian eksternal maupun pengujian internal.

 

1.      Uji Eksternal

a.       Test-Retest

Test-retest adalah pengujian reliabilitas yang diperoleh melalui pemberian tes yang sama dua kali selama periode waktu tetentu kepada sekelompok individu. Dalam hal ini instrumennya sama, responden sama, tetapi waktu berbeda. Skor hasil uji pertama dan hasil uji kedua dapat dikorelasikan untuk mengevaluasi uji stabilitas.

b.      Ekuivalen / Parallel forms / Alternate forms

Ekuivalen adalah pengujian reliabilitas yang diperoleh melalui pemberian instrumen tes yang isi pertanyaan secara kata-kata berbeda namun memiliki maksud yang sama. Jadi dalam hal ini ada dua soal yang paralel, artinya masing-masing soal disusun tersendiri, tingkat kesukaran sama, jumlah butir soal sama, isi dan bentuk sama, waktu serta petunjuk menyelesaikan soal juga sama.

c.       Gabungan

Pengujian reliabilitas dengan cara ini dilakukan dengan menggunakan gabungan kedua cara di atas. Artinya dua instrumen yang ekuivalen diberikan beberapa kali ke responden yang sama. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan kedua instrumen, lalu dikorelasikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan secara silang. Hasilnya akan diperoleh enam buah koefisien korelasi.

Graphical user interface, diagram

Description automatically generated

 

2.      Uji Internal

Pandangan reliabilitas sebagi konsistensi internal adalalah suatu instrumen dikatakan reliabel apabila hasil pengukuran pada butir-butir secara internal hasilnya stabil dan konsisten. Menurut Basuki (2014) metode pengujian reliabilitas instrumen dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan banyaknya butir soal yaitu 1) jumlah butir genap, dan 2) jumlah butir ganjil. Jika jumlah butir genap, metode pengujian reliabilitas dengan metode belah dua (split half method) pada butir soal dengan jumlah yang sama banyak. Pembagian butir dapat dilakukan menggunakan nomor butir ganjil-genap atau nomor butir awal-akhir. Metode pengujian dapat dilakukan dengan teknik dari Spearman Brown, Flanagan dan Rulon. Jika jumlah butir soalnya ganjil maka tidak bisa di belah menjadi dua bagian. Oleh karena itu, digunakan teknik Kuder Richardson, Anova Hoyt atau Alfa Cronbach.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi Uji Reabilitas adalah: Jumlah tes dalam instrument, konstruksi tes, sifat responden, kondisi pengujian, kebetulan dan kesalahan saat menebak, instruksi tes dan tes yang terlalu mudah dan terlalu sulit.

 

 

MPK 14 Mancova

  Essai Mancova (Pert. 14 Metpen Kuan) Hidayatullah Hana Putra 210321868030   Analysis of Variance (ANOVA) merupakan metode untuk me...