Metode Penelitian Kuantitatif (SAMPEL)
Essai Makalah kelompok 5
Judul: Sampel
Oleh: Hidayatullah Hana Putra
NIM: 210321868030
SAMPEL
A.
Probability Sampling
Didalam penelitian ada dua Teknik pengambilan
data yaitu probability sampling dan non-probability sampling. Makalah ini akan
membahas mengenai probability sampling saja. Secara garis besar dapat dikatakan
probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel dengan cara acak
sedemikian rupa. Teknik pengambilan sampel ini memberikan peluang yang sama
bagi setiap anggota populasi untuk terpilih menjadi anggota sampel sehingga
sampling memiliki peluang resiko bias yang lebih kecil dibandingkan
non-probability sampling (Cohen, 2007: McMillan, 1996; Sugiyono, 2013).
Teknik probability sampling terbagi
menjadi simple random sampling, Menentukan target populasi Menentukan kerangka
dan teknik pengambilan sampel Menentukan ukuran sampel Menentukan sampel
Melaksanakan pengambilan data penelitian Menilai tingkat respon 6 systematic
sampling, stratified sampling, dan cluster sampling. Berikut adalah penjelasan
dari masing-masing teknik pengambilan sampel tersebut.
Simple Random Sampling (Pengambilan Sampel Acak Sederhana)
Teknik pengambilan sampel ini
dilakukan dengan menggunakan cara acak tanpa memperhatikan strata yang ada
dalam populasi (Sugiyono, 2013). Pengambilan sampel dengan teknik ini
memungkinkan setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk
terpilih sebagai sampel (Pazzaglia et al., 2016; Sugiyono, 2013; Taherdoost,
2016; Winarno, 2013). Teknik pengambilan sampel ini biasanya digunakan pada penelitian
dengan populasi yang kecil (McMillan, 1996). Teknik ini sebaiknya digunakan
pada populasi homogen agar sampel yang dipilih dapat merepresentasikan
keseluruhan populasi (Cohen, 2007). Apabila teknik pengambilan sampel ini
dilakukan dengan benar maka peneliti dapat meyakini bahwa hasil penelitian yang
diperoleh dari sampel dapat digeneralisasikan pada populasi (Pazzaglia et al.,
2016).
Systematic Sampling (Pengambilan Sampel Sistematis)
Jadi, dalam pengambilan sampel
sistematik hanya unit pertama yang dipilih secara acak dan unit sampel yang
tersisa akan dipilih dalam rentang tertentu, tidak seperti sampel acak dalam
arti sebenarnya. Pelaksanaan metode ini sangat mudah, lebih murah dan nyaman
digunakan jika populasinya lebih besar (Etikan and Bala, 2017). Teknik
pengambilan sampel sistematis ini dilakukan dengan memberikan nomor urut pada
setiap anggota populasi, misalnya 100 orang populasi diberikan nomor urut 1
sampai dengan 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mengambil Populasi
relatif homogen Sampel yang representatif Dipilih secara acak 9 nomor genap
atau ganjil saja, atau dapat pula dengan memilih berdasarkan kelipatan
tertentu. Contohnya, sebuah populasi terdiri dari 150 orang dan sampel diambil
pada setiap kelipatan 5 sampai dengan jumlah sampel yag diinginkan terpenuhi
(contoh : 5, 10, 15, dan seterusnya).
Stratified Random Sampling (Pengambilan Sampel Berstrata)
Stratified Sampling adalah sampling yang dilakukan Jika strata atau
tingkatan pada suatu populasi menjadi faktor yang diperhatikan (Arieska and
Herdiani, 2018). Menurut McMillan (1996), penggunaan teknik ini dilakukan
dengan dua alasan utama, yaitu : 1) Selama subkelompok masih teridentifikasi
oleh variabel yang terkait dengan variabel dependen dalam penelitian dan hasilnya
lebih banyak kelompok homogen, sampel akan lebih representatif dibandingkan
jika diambil dari keseluruhan populasi. 2) Teknik ini memastikan jumlah yang
cukup dari sampel yang dipilih dari subkelompok berbeda. Teknik pengambilan
sampel ini terbagi menjadi dua, yaitu:
1.
Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik
ini digunakan pada populasi yang tidak homogen dan berstrata secara
proporsional (Sugiyono, 2013)
2.
Disproporsionate Stratified Random Sampling
Teknik
pengambilan sampel ini digunakan apabila sampel berstrata tetapi kurang
proporsional (Sugiyono, 2013). Contohnya, apabila karyawan suatu perusahaan
mempunyai; 100 orang lulusan SMA, 120 orang lulusan SMK, 200 orang lulusan S1,
15 orang lulusan S2, dan 5 orang lulusan S3, maka lima belas orang lulusan S2
dan lima orang lulusan S3 tersebut diambil semuanya sebagai sampel penelitian.
Hal ini dilakukan karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan
kelompok lainnya.
Cluster / Area Sampling
Teknik pengambilan sampel jenis ini biasanya digunakan untuk
menentukan sampel bila sumber data sangat luas (Sugiyono, 2013). Beberapa
tahapan dari cluster sampling menurut (Taherdoost, 2016) adalah sebagai
berikut.
1. Pilih pengelompokan cluster untuk
kerangka sampling, seperti wilayah geografis, status sekolah, jenis perusahaan,
dan sebagainya.
2. Berikan nomor pada masing-masing
cluster.
3. Pilih sampel secara acak dari
cluster yang dipilih.
B.
Kegunaan Pengambilan Sampel (Sampling)
1.
Mempercepat pelaksanaan penelitian
Penelitian
yang hanya dilakukan terhadap sampel akan lebih cepat selesai. Penelitian yang
dilakukan terhadap obyek yang banyak (keseluruhan populasi) akan membutuhkan
waktu yang relative lama bila dibandingkan dengan hanya terhadap sampel saja.
2.
Menghemat tenaga
Penelitian
yang dilakukan terhadap sample akan memerlukan lebih sedikit tenaga
dibandingkan jik apenelitian seluruh populasi.
3.
Menghemat biaya
Penelitian yang
dilakukan terhadap seluruh obyek (populasi) yang diteliti, sudah pasti akan
membutuhkan banyak biaya. Oleh karena itu, dengan sampling sebagai perwakilan/
representari dari suatu populasi sudah cukup digunakan untuk memenuhi data penelitian,
dalam arti penelitian hanya dilakukan terhadap sebagian populasi, akan
meminimalisir biaya yang dikeluarkan.
Alasan Peneliti menggunakan Sampel
1.
Ukuran populasi
Dalam
hal populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak
diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena itu sama
sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian juga
dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis
untuk mengumpulkan data dari populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar
diseluruh pelosok Indonesia misalnya.
2.
Masalah biaya
Besar
kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki.
Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan,
lebih–lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu,
sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.
3. Masalah waktu
Penelitian
sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi.
Sehubungan dengan hal itu, apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan
diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel,dalam hal ini, lebih cepat.
4. Percobaan yang sifatnya merusak
Banyak
penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat
merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari
tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak
mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian
harus dilakukan hanya pada sampel (Margono, S, 2004).
5. Masalah ketelitian
Adalah
salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat dipertanggung
jawabkan. Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan
analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselengar.
Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam melaksanakan tugasnya. Untuk
menghindarkan itu semua,penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian
dalam suatu penelitian.
6. Masalah ekonomis
Pertanyaan yang
harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah kegunaan dari hasil
penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika
tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian sampel
pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada penelitian populasi.
Penentuan Jumlah Sampel
Hal yang perlu diperhatikan adalah
keadaan homogenitas dan heterogenitas populasi. (Hadi, Amirul, 1998) Jika keadaan
populasi homogen, jumlah sample hampir-hampir tidak menjadi persoalan,
sebaliknya, jika keadaan populasi heterogen, maka pertimbanagna pengambilan
sample harus memperhatikan hal:
1. Harus diselidiki kategori-kategori
heterogenitas.
2. Besarnya populasi dalam tiap
kategori
Petunjuk
Pengambilan Sampel
Petunjuk
–petunjuk untuk mengambil sampel :
1. Daerah generalisasi Yang penting disini adalah menentukan dahulu luas populasinnya
sebagai daerah generalisasi, selanjutnya barulah menentukan sampelnya sebagai
daerah penelitiannya. Di sampling itu, yang penting adalah : “ kalau yang
diselidiki hanya satu kelas saja, jangan diperluas sampai kelas-kelas lainnya
apalagi menyimpulkan untuk sekolah-sekolah lain”.
2. Pengesahan sifat-sifat populasi dan
ketegasan batas-batasnya (Mahmud, 2011)
Bila luas populasinya telah ditetapkan, harus segera diikuti penegasan tentang
sifat-sifat populasinnya. Penegasan ini sangat penting bila menginginkan adanya
valliditas dan reabilitas bagi penelitiannya. Oleh sebab itu, haruslah
ditentukan terlebih dahulu luas dan sifat-sifat populasi, dan memberikan
batas-batas yang tegas, kemudian menetapkan sampelnya. Jangan terjadi
kebalikannya,yaitu menetapkan populasilah yang lebih dahulu baru kemudian
sampelnya.
3. Sumber-sumber informasi tentang
populasi Untuk mengetahui ciri-ciri
populasinya secara terperinci dapat diperoleh melalui bermacam-macam sumber
informasi tentang populasi tersebut. Misalnya, sensus penduduk dokumen-dokumen
yang disusun oleh instansi-instansi dan organisasi-organisasi, seperti
pengadilan, kepolisian, kantor P & K, kantor kelurahan, dan sebagainnya.
Meskipun demikia, haruslah diteliti kembali apakah informasi tersebut telah
menunjukkan validitasnya (kesahihan) . Hal itu perlu karena jangan sampai
terjadi data tahun 1954 masih dipakai sebagia sumber untuk tahun 1965, misalnya
bila tahun 1954 tercatat jumlah anak rata-rata dalam seiap keluarga 4 orang,
maka pada tahun 1965 jumlah anak rata-rata mungkin tidak seperti itu (4 orang).
4. Menetapkan besar kecilnya sampel, Mengenai berapa besar kecilnya sampel yang harus diambil untuk
sebuah penelitian, memang tidak ada ketentuan yang pasti.
5. Menetapkan teknik sampling Dalam masalah sampel, ada yang disebut biased sampel, yaitu sampel
yang tidak mewakili populasi atau disebut juga dengan sample yang menyeleweng.
Pengambilan sampel yang menyeleweng disebut : biased sampling. (Sukmadinata,
Nana, 2010) Biased sampling adalah pengambilan sampel yang tidak dari seluruh
populasi, tetapi hanya dari salah satu golongan populasi saja, tetapi
generalisasinya dikenakan kepada seluruh populasi. Contoh : misalnya mengadakan
penelitian tentang penghasilan rata-rata orang indonesia hanya diambil sample
yang kaya raya saja, ataupun hanya yang melarat? miskin saja. Dengan sendiriny
akan mengakibatkan adaanya kesimpulan yang menyeleweng atau disebut biased
conclusion.