Statistik Inferensial Kel. 3: Uji Prasarat Analisis: Normalitas, Homogenitas dan Linieritas
Hidayatullah Hana Putra
210321868030
UJI PRASARAT ANALISIS: NORMALITAS, HOMOGENITAS DAN LINIERITAS
Uji Normalitas
Uji normalitas adalah pengujian data
untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas
data perlu dilakukan agar peneliti dapat menentukan jenis statistik apa yang
akan digunakan. Jika data yang akan diolah berasal dari populasi yang
terdistribusi normal dapat menggunakan statistik parametrik. Jika data tidak
terdistribusi normal dapat menggunakan statistik non-parametrik. Uji normalitas
data perlu dilakukan khususnya bagi penelitian yang menggunakan parameter
rata-rata (mean) sebagai tolak ukur keberhasilan penelitian. Penelitian
kuantitatif atau eksperimen di bidang pendidikan sering menggunakan parameter
rata-rata (mean) untuk menarik kesimpulan.
Uji Normalitas dapat menggunakan
metode Kolmogorv-Smirnov yaitu mencari simpangan terbesar (D) dari
fungsi distribusi kumulatif data observasi (empiris) terhadap fungsi distribusi
kumulatif teoritis. Apabila penyimpangan maksimum tidak terlalu besar maka data
observasi terdistribusi normal. Namun, jika penyimpangan maksimum sangat besar
maka data observasi tidak terdistribusi normal. Jika D < k maka data
terdistribusi normal. Jika D > k maka data
tidak terdistribusi normal. Jika nilai P-Value /Sig pada output
software lebih besar dari dengan taraf signifikansi (a = 0,05) maka data sampel yang diuji berasal dari populasi
terdistribusi normal dan begitu juga sebaliknya (Nasrum, 2018).
Uji Homogenitas
Homogenitas varians didefinisikan
sebagai situasi saat dua atau lebih populasi memiliki varians yang sama 𝜎1 2 =
𝜎2 2 (Howell,
2011). Salah satu pendekatan yang digunakan untuk membandingkan
kelompok-kelompok data adalah menggunakan sampel yang homogen dengan memilih
subjek yang memiliki sedikit keberagaman pada karakteristik personalnya. Jika
jumlah subjek yang dapat diterima yang memiliki skor yang sama dapat ditemukan,
subjek ini ditetapkan secara acak dan eksperimen dilakukan sebagai eksperimen
kelompok acak konvensional. Masalah utama dengan metode ini adalah seringkali
sangat sulit untuk menemukan jumlah subjek yang cukup dengan skor yang sama
pada ukuran keberagaman (Huitema, 2011).
Misalnya diasumsikan bahwa siswa
dikelompokkan menjadi dua kelas (satu kelas menerima pembelajaran khusus
tentang bahaya kesehatan kerja, kelas satunya tidak) memiliki kesamaan
karakteristik seperti rata-rata nilai akademik, jenis kelamin, ras, atau
kemampuan utamanya. Maka, seringkali diasumsikan bahwa varians akan tetap sama
dan data akan dianggap berasal dari populasi yang sama (homogen).
Jenis-jenis Uji Homogenitas
Uji Bartlett
Tujuan dari uji Bartlett pada mulanya adalah untuk menguji homoskedastisitas
dari dua populasi yang terdistribusi normal (Bartlett, 1937). Selanjutnya uji
ini dikembangkan oleh Snecedor and Chocran pada tahun 1989 untuk menguji
kesamaan varians dari banyak populasi.
Uji Hartley atau Uji Fisher Uji ini
merupakan uji lain yang umum digunakan untuk menguji perbedaan signifikan dari
varians yang memiliki banyak sampel dengan ukuran sampel yang sama (Hartley,
1950). R. A. Fisher mempublikasikan temuannya tentang analisis varians pada
tahun 1930. Temuannya menyumbang pengetahuan yang besar di dunia statistic dan
masih digunakan hingga saat ini. Uji Hartley/Fisher dapat digunakan ketika
ukuran sampelnya mendekati sama dan data terdistribusi normal.
Uji Levene
Tujuan dari Uji Levene adalah untuk mengetahui perbedaan dari dua kelompok data
yang memiliki perbedaan varians.
Pengertian Uji Prasyarat Linieritas
Menurut Muwarni, Sentosa (2001) uji
linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan
yang linear atau tidak secara signifikan. Uji ini digunakan sebagai prasyarat
statistik parametrik. Data yang baik seharusnya terdapat hubungan yang linear
antara variabel predictor (X) dengan variabel kriterium (Y) dalam beberapa
referensi dinyatakan bahwa uji linearitas merupakan syarat sebelum dilakukannya
uji regresi linier. Suatu uji yang dilakukan harus berpedoman pada dasar pengambilan
keputusan dalam uji linearitas yaitu jika nilai signifikansi lebih besar dari
0.05, maka kesimpulannya adalah terdapat hubungan linier antara variabel
predictor (X) dengan variabel kriterium (Y), sebaliknya, jika nilai
signifikansi lebih kecil dari 0.05, maka kesimpulannya adalah tidak terdapat
hubungan linier antara variabel predictor (X) dengan variabel kriterium (Y)
(Riduwan, 2008).
Hasil yang diperoleh melalui uji
linieritas akan menentukan teknikteknik analisis data yang dipilih, dapat digunakan
atau tidak (Subana, 2000). Apabila dari hasil uji linieritas didapatkan
kesimpulan bahwa distribusi data penelitian dikategorikan linier maka data
penelitian dapat digunakan dengan metode-metode yang ditentukan. Demikian juga
sebaliknya apabila ternyata tidak linier maka distribusi data harus dianalisis
dengan metode lain (Widiyanto, Mikha. 2008).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar