Minggu, 26 September 2021

Metode Penelitian Kuantitatif (SAMPEL)

Essai Makalah kelompok 5

Judul: Sampel

Oleh: Hidayatullah Hana Putra

NIM: 210321868030

SAMPEL

A.  Probability Sampling

Didalam penelitian ada dua Teknik pengambilan data yaitu probability sampling dan non-probability sampling. Makalah ini akan membahas mengenai probability sampling saja. Secara garis besar dapat dikatakan probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel dengan cara acak sedemikian rupa. Teknik pengambilan sampel ini memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk terpilih menjadi anggota sampel sehingga sampling memiliki peluang resiko bias yang lebih kecil dibandingkan non-probability sampling (Cohen, 2007: McMillan, 1996; Sugiyono, 2013).

Teknik probability sampling terbagi menjadi simple random sampling, Menentukan target populasi Menentukan kerangka dan teknik pengambilan sampel Menentukan ukuran sampel Menentukan sampel Melaksanakan pengambilan data penelitian Menilai tingkat respon 6 systematic sampling, stratified sampling, dan cluster sampling. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing teknik pengambilan sampel tersebut.

Simple Random Sampling (Pengambilan Sampel Acak Sederhana)

Teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan menggunakan cara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi (Sugiyono, 2013). Pengambilan sampel dengan teknik ini memungkinkan setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel (Pazzaglia et al., 2016; Sugiyono, 2013; Taherdoost, 2016; Winarno, 2013). Teknik pengambilan sampel ini biasanya digunakan pada penelitian dengan populasi yang kecil (McMillan, 1996). Teknik ini sebaiknya digunakan pada populasi homogen agar sampel yang dipilih dapat merepresentasikan keseluruhan populasi (Cohen, 2007). Apabila teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan benar maka peneliti dapat meyakini bahwa hasil penelitian yang diperoleh dari sampel dapat digeneralisasikan pada populasi (Pazzaglia et al., 2016).

Systematic Sampling (Pengambilan Sampel Sistematis)

Jadi, dalam pengambilan sampel sistematik hanya unit pertama yang dipilih secara acak dan unit sampel yang tersisa akan dipilih dalam rentang tertentu, tidak seperti sampel acak dalam arti sebenarnya. Pelaksanaan metode ini sangat mudah, lebih murah dan nyaman digunakan jika populasinya lebih besar (Etikan and Bala, 2017). Teknik pengambilan sampel sistematis ini dilakukan dengan memberikan nomor urut pada setiap anggota populasi, misalnya 100 orang populasi diberikan nomor urut 1 sampai dengan 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mengambil Populasi relatif homogen Sampel yang representatif Dipilih secara acak 9 nomor genap atau ganjil saja, atau dapat pula dengan memilih berdasarkan kelipatan tertentu. Contohnya, sebuah populasi terdiri dari 150 orang dan sampel diambil pada setiap kelipatan 5 sampai dengan jumlah sampel yag diinginkan terpenuhi (contoh : 5, 10, 15, dan seterusnya).

 

Stratified Random Sampling (Pengambilan Sampel Berstrata)

Stratified Sampling adalah sampling yang dilakukan Jika strata atau tingkatan pada suatu populasi menjadi faktor yang diperhatikan (Arieska and Herdiani, 2018). Menurut McMillan (1996), penggunaan teknik ini dilakukan dengan dua alasan utama, yaitu : 1) Selama subkelompok masih teridentifikasi oleh variabel yang terkait dengan variabel dependen dalam penelitian dan hasilnya lebih banyak kelompok homogen, sampel akan lebih representatif dibandingkan jika diambil dari keseluruhan populasi. 2) Teknik ini memastikan jumlah yang cukup dari sampel yang dipilih dari subkelompok berbeda. Teknik pengambilan sampel ini terbagi menjadi dua, yaitu:

1.    Proportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan pada populasi yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional (Sugiyono, 2013)

2.    Disproporsionate Stratified Random Sampling

Teknik pengambilan sampel ini digunakan apabila sampel berstrata tetapi kurang proporsional (Sugiyono, 2013). Contohnya, apabila karyawan suatu perusahaan mempunyai; 100 orang lulusan SMA, 120 orang lulusan SMK, 200 orang lulusan S1, 15 orang lulusan S2, dan 5 orang lulusan S3, maka lima belas orang lulusan S2 dan lima orang lulusan S3 tersebut diambil semuanya sebagai sampel penelitian. Hal ini dilakukan karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok lainnya.

Cluster / Area Sampling

Teknik pengambilan sampel jenis ini biasanya digunakan untuk menentukan sampel bila sumber data sangat luas (Sugiyono, 2013). Beberapa tahapan dari cluster sampling menurut (Taherdoost, 2016) adalah sebagai berikut.

1.    Pilih pengelompokan cluster untuk kerangka sampling, seperti wilayah geografis, status sekolah, jenis perusahaan, dan sebagainya.

2.    Berikan nomor pada masing-masing cluster.

3.    Pilih sampel secara acak dari cluster yang dipilih.

 

B.  Kegunaan Pengambilan Sampel (Sampling)

1.    Mempercepat pelaksanaan penelitian

Penelitian yang hanya dilakukan terhadap sampel akan lebih cepat selesai. Penelitian yang dilakukan terhadap obyek yang banyak (keseluruhan populasi) akan membutuhkan waktu yang relative lama bila dibandingkan dengan hanya terhadap sampel saja.

2.    Menghemat tenaga

Penelitian yang dilakukan terhadap sample akan memerlukan lebih sedikit tenaga dibandingkan jik apenelitian seluruh populasi.

3.    Menghemat biaya

Penelitian yang dilakukan terhadap seluruh obyek (populasi) yang diteliti, sudah pasti akan membutuhkan banyak biaya. Oleh karena itu, dengan sampling sebagai perwakilan/ representari dari suatu populasi sudah cukup digunakan untuk memenuhi data penelitian, dalam arti penelitian hanya dilakukan terhadap sebagian populasi, akan meminimalisir biaya yang dikeluarkan.

Alasan Peneliti menggunakan Sampel

1.    Ukuran populasi

Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena itu sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.

2.    Masalah biaya

Besar kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih–lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.

3.    Masalah waktu

Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu, apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel,dalam hal ini, lebih cepat.

4.    Percobaan yang sifatnya merusak

Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel (Margono, S, 2004).

5.    Masalah ketelitian

Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat dipertanggung jawabkan. Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua,penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.

6.    Masalah ekonomis

Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada penelitian populasi.

Penentuan Jumlah Sampel

Hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan homogenitas dan heterogenitas populasi. (Hadi, Amirul, 1998) Jika keadaan populasi homogen, jumlah sample hampir-hampir tidak menjadi persoalan, sebaliknya, jika keadaan populasi heterogen, maka pertimbanagna pengambilan sample harus memperhatikan hal:

1.    Harus diselidiki kategori-kategori heterogenitas.

2.    Besarnya populasi dalam tiap kategori

Petunjuk Pengambilan Sampel

Petunjuk –petunjuk untuk mengambil sampel :

1.    Daerah generalisasi Yang penting disini adalah menentukan dahulu luas populasinnya sebagai daerah generalisasi, selanjutnya barulah menentukan sampelnya sebagai daerah penelitiannya. Di sampling itu, yang penting adalah : “ kalau yang diselidiki hanya satu kelas saja, jangan diperluas sampai kelas-kelas lainnya apalagi menyimpulkan untuk sekolah-sekolah lain”.

2.    Pengesahan sifat-sifat populasi dan ketegasan batas-batasnya (Mahmud, 2011) Bila luas populasinya telah ditetapkan, harus segera diikuti penegasan tentang sifat-sifat populasinnya. Penegasan ini sangat penting bila menginginkan adanya valliditas dan reabilitas bagi penelitiannya. Oleh sebab itu, haruslah ditentukan terlebih dahulu luas dan sifat-sifat populasi, dan memberikan batas-batas yang tegas, kemudian menetapkan sampelnya. Jangan terjadi kebalikannya,yaitu menetapkan populasilah yang lebih dahulu baru kemudian sampelnya.

3.    Sumber-sumber informasi tentang populasi Untuk mengetahui ciri-ciri populasinya secara terperinci dapat diperoleh melalui bermacam-macam sumber informasi tentang populasi tersebut. Misalnya, sensus penduduk dokumen-dokumen yang disusun oleh instansi-instansi dan organisasi-organisasi, seperti pengadilan, kepolisian, kantor P & K, kantor kelurahan, dan sebagainnya. Meskipun demikia, haruslah diteliti kembali apakah informasi tersebut telah menunjukkan validitasnya (kesahihan) . Hal itu perlu karena jangan sampai terjadi data tahun 1954 masih dipakai sebagia sumber untuk tahun 1965, misalnya bila tahun 1954 tercatat jumlah anak rata-rata dalam seiap keluarga 4 orang, maka pada tahun 1965 jumlah anak rata-rata mungkin tidak seperti itu (4 orang).

4.    Menetapkan besar kecilnya sampel, Mengenai berapa besar kecilnya sampel yang harus diambil untuk sebuah penelitian, memang tidak ada ketentuan yang pasti.

5.    Menetapkan teknik sampling Dalam masalah sampel, ada yang disebut biased sampel, yaitu sampel yang tidak mewakili populasi atau disebut juga dengan sample yang menyeleweng. Pengambilan sampel yang menyeleweng disebut : biased sampling. (Sukmadinata, Nana, 2010) Biased sampling adalah pengambilan sampel yang tidak dari seluruh populasi, tetapi hanya dari salah satu golongan populasi saja, tetapi generalisasinya dikenakan kepada seluruh populasi. Contoh : misalnya mengadakan penelitian tentang penghasilan rata-rata orang indonesia hanya diambil sample yang kaya raya saja, ataupun hanya yang melarat? miskin saja. Dengan sendiriny akan mengakibatkan adaanya kesimpulan yang menyeleweng atau disebut biased conclusion. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MPK 14 Mancova

  Essai Mancova (Pert. 14 Metpen Kuan) Hidayatullah Hana Putra 210321868030   Analysis of Variance (ANOVA) merupakan metode untuk me...