Rabu, 06 Oktober 2021

 

Statistik Inferensial

Essai kel. 4 Pengujian Hipotesis Assosiatif Parametrik dan Non-Parametrik

Hidayatullah Hana Putra

210321868030

 

Pengujian Hipotesis Assosiatif Parametrik

Hipotesis asosiatif merupakan dugaan tentang adanya hubungan antar variabel dalam populasi, melalui data hubungan dalam sampel. Untuk itu dalam langkah awal pembuktiannya, perlu dihitung terlebih dulu koefisien korelasi antar variabel dlam sampel, kemudian koefisien yang ditemukan tersebut diuji signifikansinya. Jadi menguji hipotesis asosiatif adalah menguji koefisien korelasi yang ada pada sampel untuk diberlakukan pada seluruh populasi tempat sampel diambil. Terdapat tiga macam hubungan antar variabel, yaitu hubungan simetris, hubungan sebab akibat (kausal), dan hubungan interaktif (saling mempengaruhi). Untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi antara variabel-variabel tersebut. Koefisien korelasi merupakan angka yang menunjukkan arah dan kuatnya hubungan antar variabel. Hubungan positif antara dua variabel memberikan arti bahwa naiknya salah satu variabel akan menyebabkan naiknya variabel yang satunya. Sedangkan hubungan yang negatif mengandung arti bahwa ketika salah satu variabel nilainya naik maka variabel yang lain turun. Hubungan positif antara dua variabel memberikan arti bahwa naiknya salah satu variabel akan menyebabkan naiknya variabel yang satunya. Sedangkan hubungan yang negatif mengandung arti bahwa ketika salah satu variabel nilainya naik maka variabel yang lain turun.

Statistik parametrik adalah ilmu statistik yang mempertimbangkan jenis sebaran atau distribusi data. Hal ini dimaksud, apakah data menyebar secara normal atau tidak. Statistik parametrik digunakan untuk menguji hipotesis dan variabel yang terukur. Dengan kata lain, data yang di analisis menggunakan statistik parametrik harus memenuhi asumsi normalitas.

Kelebihan statistik parametrik yaitu:

1. Syarat parameter dari suatu populasi yang menjadi sampel biasanya tidak diuji dan dianggap memenuhi syarat, pengukuran terhadap data dilakukan dengan kuat.

2. Observasi bebas satu sama lain dan ditarik dari populasi yang berdistribusi normal serta memiliki varian yang homogen.

Kelemahan statistik parametrik yaitu:

1. Populasi harus memiliki varian yang sama.

2.Variabel-variabel yang diteliti harus dapat diukur setidaknya dalam skala interval.

3. Dalam analisis varian ditambahkan persyaratan rata-rata dari populasi harus normal dan bervarian sama, dan harus merupakan kombinasi linear dari efek-efek yang ditimbulkan.

Hipotesis Assosiatif Non-Parametrik

Hipotesis asosiatif merupakan dugaan adanya hubungan antar variabel dalam populasi, melalui data hubunga dalam sampel. Untuk itu, dalam langkah awal pembuktiannya, perlu dihitung terlebih dulu koefisien korelasi antar variabel dalam sampel, kemudian koefisien yang ditemukan tersebut diuji signifikansinya. Jadi menguji hipotesis asosiatif adalah menguji koefisien korelasi yang ada pada sampel untuk diberlakukan pada seluruh populasi tempat sampel diambil. Terdapat tiga macam hubungan antar variabel, yaitu hubungan simetris, hubungan sebab akibat (kausal), dan hubungan interaktif (saling mempengaruhi). Contoh: 1. Adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan manisnya buah? (Hubungan Simetris) 2. Seberapa besar pengaruh kurikulum, media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah? (Hubungan Kausal) 3. Apa hubungan motivasi dan prestasi peserta didik? (Hubungan timbal balik /reciprocal/timbal bali. 

Uji Hipotesis adalah metode pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisa data, baik dari percobaan yang terkontrol, maupun dari observasi (tidak terkontrol). Dalam statistik, sebuah hasil pengujian dalam penelitian bisa dikatakan signifikan secara statistik jika kejadian tersebut hampir tidak mungkin disebabkan oleh faktor yang kebetulan (Rosana and Setyawarno, 2016). Pada kesempataan kali ini akan dibahas terkait uji hipotesis asosiatif non parametrik. Tujuan uji hipotesis asosiatif hubungan positif antara dua variabel memberikan arti bahwa naiknya salah satu variabel akan menyebabkan naiknya variabel yang satunya. Sedangkan hubungan yang negatif mengandung arti bahwa ketika salah satu variable nilainya naik maka variabelyang lain turun. Kuat lemahnya hubungan antar kedua variable ditunjukan melalui angka koefisien korelasi yang berkisar antara 0 sampai dengan ± 1. Ketika koefisien korelasi +1 menunjukkan bahwa antara kedua variabel tersebut terdapat hubungan positif sempurna. Sempurna disini mengandung arti bahwa naik atau turunnya salah satu variabel bisa dijelasksn dengan variabel yang lain dengan sepenuhnya tanpa kesalahan sedikit pun. Sedangkan koefisien korelasi sebesar nol, berarti diantara kedua variabel tersebut sama sekali tidak terdapat hubungan. Artinya, naik atau turunnya variabel yang satu sama sekali tidak mempengaruhi variabel yang lain. Namun, dalam kehidupan sosial, korelasi sebesar nol dan satu ini jarang sekali terjadi (tidak akan pernah ada).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MPK 14 Mancova

  Essai Mancova (Pert. 14 Metpen Kuan) Hidayatullah Hana Putra 210321868030   Analysis of Variance (ANOVA) merupakan metode untuk me...