Statistik Inferensial
Essai kel. 4 Pengujian Hipotesis Assosiatif Parametrik dan Non-Parametrik
Hidayatullah Hana Putra
210321868030
Pengujian Hipotesis Assosiatif
Parametrik
Hipotesis asosiatif merupakan dugaan
tentang adanya hubungan antar variabel dalam populasi, melalui data hubungan
dalam sampel. Untuk itu dalam langkah awal pembuktiannya, perlu dihitung
terlebih dulu koefisien korelasi antar variabel dlam sampel, kemudian koefisien
yang ditemukan tersebut diuji signifikansinya. Jadi menguji hipotesis asosiatif
adalah menguji koefisien korelasi yang ada pada sampel untuk diberlakukan pada
seluruh populasi tempat sampel diambil. Terdapat tiga macam hubungan antar
variabel, yaitu hubungan simetris, hubungan sebab akibat (kausal), dan hubungan
interaktif (saling mempengaruhi). Untuk mencari hubungan antara dua variabel
atau lebih dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi antara
variabel-variabel tersebut. Koefisien korelasi merupakan angka yang menunjukkan
arah dan kuatnya hubungan antar variabel. Hubungan positif antara dua variabel
memberikan arti bahwa naiknya salah satu variabel akan menyebabkan naiknya
variabel yang satunya. Sedangkan hubungan yang negatif mengandung arti bahwa
ketika salah satu variabel nilainya naik maka variabel yang lain turun. Hubungan
positif antara dua variabel memberikan arti bahwa naiknya salah satu variabel
akan menyebabkan naiknya variabel yang satunya. Sedangkan hubungan yang negatif
mengandung arti bahwa ketika salah satu variabel nilainya naik maka variabel
yang lain turun.
Statistik parametrik adalah ilmu
statistik yang mempertimbangkan jenis sebaran atau distribusi data. Hal ini
dimaksud, apakah data menyebar secara normal atau tidak. Statistik parametrik
digunakan untuk menguji hipotesis dan variabel yang terukur. Dengan kata lain,
data yang di analisis menggunakan statistik parametrik harus memenuhi asumsi
normalitas.
Kelebihan statistik parametrik yaitu:
1. Syarat parameter dari suatu populasi yang menjadi sampel biasanya tidak diuji dan dianggap memenuhi syarat, pengukuran terhadap data dilakukan dengan kuat.
2. Observasi bebas satu sama lain dan ditarik dari populasi yang berdistribusi normal serta memiliki varian yang homogen.
Kelemahan statistik parametrik yaitu:
1. Populasi harus memiliki varian yang sama.
2.Variabel-variabel yang diteliti harus dapat diukur setidaknya dalam skala interval.
3. Dalam analisis varian ditambahkan persyaratan rata-rata dari populasi harus normal dan bervarian sama, dan harus merupakan kombinasi linear dari efek-efek yang ditimbulkan.
Hipotesis Assosiatif Non-Parametrik
Hipotesis asosiatif merupakan dugaan
adanya hubungan antar variabel dalam populasi, melalui data hubunga dalam
sampel. Untuk itu, dalam langkah awal pembuktiannya, perlu dihitung terlebih
dulu koefisien korelasi antar variabel dalam sampel, kemudian koefisien yang
ditemukan tersebut diuji signifikansinya. Jadi menguji hipotesis asosiatif
adalah menguji koefisien korelasi yang ada pada sampel untuk diberlakukan pada
seluruh populasi tempat sampel diambil. Terdapat tiga macam hubungan antar
variabel, yaitu hubungan simetris, hubungan sebab akibat (kausal), dan hubungan
interaktif (saling mempengaruhi). Contoh: 1. Adakah hubungan antara
banyaknya semut di pohon dengan manisnya buah? (Hubungan Simetris) 2. Seberapa
besar pengaruh kurikulum, media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas
SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah? (Hubungan Kausal) 3. Apa hubungan
motivasi dan prestasi peserta didik? (Hubungan timbal balik /reciprocal/timbal
bali.
Uji Hipotesis adalah metode
pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisa data, baik dari percobaan
yang terkontrol, maupun dari observasi (tidak terkontrol). Dalam statistik,
sebuah hasil pengujian dalam penelitian bisa dikatakan signifikan secara
statistik jika kejadian tersebut hampir tidak mungkin disebabkan oleh faktor
yang kebetulan (Rosana and Setyawarno, 2016). Pada kesempataan kali ini akan
dibahas terkait uji hipotesis asosiatif non parametrik. Tujuan uji hipotesis
asosiatif hubungan positif antara dua variabel memberikan arti bahwa naiknya
salah satu variabel akan menyebabkan naiknya variabel yang satunya. Sedangkan
hubungan yang negatif mengandung arti bahwa ketika salah satu variable nilainya
naik maka variabelyang lain turun. Kuat lemahnya hubungan antar kedua variable
ditunjukan melalui angka koefisien korelasi yang berkisar antara 0 sampai
dengan ± 1. Ketika koefisien korelasi +1 menunjukkan bahwa antara kedua
variabel tersebut terdapat hubungan positif sempurna. Sempurna disini
mengandung arti bahwa naik atau turunnya salah satu variabel bisa dijelasksn
dengan variabel yang lain dengan sepenuhnya tanpa kesalahan sedikit pun.
Sedangkan koefisien korelasi sebesar nol, berarti diantara kedua variabel
tersebut sama sekali tidak terdapat hubungan. Artinya, naik atau turunnya
variabel yang satu sama sekali tidak mempengaruhi variabel yang lain. Namun,
dalam kehidupan sosial, korelasi sebesar nol dan satu ini jarang sekali terjadi
(tidak akan pernah ada).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar