Metpen Kuan: Essai Kel. 4 Berbagai Desain Eksperimen (Topik 6)
Hidayatullah Hana Putra (210321868030)
A. Desain
Penelitian True Eksperimen
True Eksperimen
terdiri dari desain eksperimental yang paling ketat dan kuat karena menyamakan
kelompok melalui penugasan acak. Dalam true eksperimen, peneliti secara acak
menugaskan peserta ke kondisi yang berbeda dari variabel eksperimental.
Individu dalam kelompok eksperimen menerima eksperimen perlakuan, sedangkan
pada kelompok kontrol tidak. Setelah penyidik melakukan pengambilan data,
mereka mengumpulkan rata-rata skor pada posttest. Ketika eksperimen
mengumpulkan skor pretest, mereka dapat membandingkan skor bersih (perbedaan
antara sebelum dan sesudah tes) (Creswell: 2012).
Karakteristik Desain Penelitian True Eksperimen
a.
Kondisi-kondisi yang ada di sekitar atau yang
diperkirakan mempengaruhi subjek yang digunakan untuk eksperimen “seyogianya
dibuang (dijauhkan)” sehingga apabila perlakuan selesai dan ternyata ada
perbedaan antara hasil pada kelompok ekperimen dan kelompok pembanding,
perbedaan hasil ini merupakan akibat adanya perlakuan.
b.
Ada kelompok yang tidak diberi perlakuan yang
difungsikan sebagai pembanding bagi kelompok yang diberi perlakuan. Pada akhir
ekperimen, hasil pada kedua kelompok dibandingkan. Perbedaan hasil merupakan
efek dari pemberian perlakuan kepada kelompok eksperimen.
c.
Sebelum dilaksanakan eksperimen, diusahakan
kondisi kedua kelompok sama sehingga paparan tentang hasil akhir dapat
betul-betul merupakan hasil ada dan tidaknya perlakuan.
d.
Apabila penelitian eksperimen dilakukan
terhadap orang, diharapkan agar anggota kelompok eksperimen maupun kelompok
pembanding tidak terpengaruh akan status mereka sehingga hasil ekperimen tidak
terkena Hawthorne effect dan John Herry Effect (efek sampingan yang disebabkan
anggota kelompok tergantung [pembanding] menyadari statusnya sehingga ada upaya
ekstra dari mereka untuk menyamai hasil kelompok eksperimen dan hasil akhir
tidak semurni yang diharapkan)
Kelebihan desain penelitian true eksperimen antara lain:
a. Merupakan
metode terbaik untuk menemukan efek kausal dari suatu tindakan.
b. Memiliki
kemampuan kontrol yang tinggi akan lingkungan.
c. Pemilihan
acak terhadap subyek yang luas.
d. Waktu
yang tersedia cukup untuk memberikan teratmen.
e. Kondisi
kelompok eksperimen dan pembanding berada pada kondisi dan keadaan yang sama.
B. Desain
Penelitian Eksperimen
Penelitian
kuantitatif berfokus pada objektivitas ada kebenaran di luar sana dan
mengkuantifikasi fenomena yang sedang diselidiki, menetapkan angka pada ide
atau konstruksi yang menarik (Schreiber & Asner-Self, 2011). Ada dua
kategori metodologi kuantitatif: eksperimental dan noneksperimental/deskriptif.
Pada praktiknya menekankan hasil, verifikasi eksperimental, pengujian hipotesis
dan generalisasi temuan dari sampel ke populasi.
Karakteristik Quasi-Experimental Design.
Dalam pendidikan, banyak situasi
eksperimental terjadi di mana peneliti perlu menggunakan kelompok utuh. Hal ini
mungkin terjadi karena ketersediaan peserta atau karena pengaturan melarang
pembentukan kelompok buatan (Creswell, 2015).
Quasi experimental design atau
desain eksperimen semu adalah rancangan penelitian eksperimen semi true
experimental design di mana subjek penelitiannya tidak diambil secara acak
(Creswell, 2014; Schreiber & Asner-Self, 2011). True experimental design
(desain eksperimen murni) merupakan rancangan penelitian yang digunakan untuk
mengungkap hubungan sebab-akibat. Bedanya dengan eksperimen semu adalah subjek
penelitian pada eksperimen murni diambil secara acak. Mereka adalah desain
eksperimental karena terdapat variabel yang dimanipulasi.
C. Faktorial Design
Faktorial Desain merupakan modifikasi dari design true experimental, yaitu dengan memperlihatkan kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan (variabel independen) terhadap hasil (variabel dependen). Paradigma design faktorial dapat digambarkan seperti berikut:
|
R O1
X
Y1 O2 R
O3
Y1 O4 R
O5
X
Y2 O6 R
O7
Y2 O8 |
Macam – macam Desain Faktorial
1.
Desain factor 2x4 yang maksudkan dalam
penelitian ini adalah dua model layanan bimbingan yaitu layanan bimbingan
dengan menggunakan model pembelajaran piramid dan layanan bimbingan konvensial
dengan empat model pola pengasuhan orang tua yaitu outhotitarian,
aouhotitative, permissive indulgent dan permissive indifferent.
2.
Desain 2x3 yang dimaksudkan yaitu dua model
bimbingan layanan dengan menggunakan model pembelajaran piramid dan layanan
bimbingan konvensial dengan tiga kategori sosio ekonomi yaitu keluarga
sejahtera II, keluarga sejahtera III dan keluarga sejahtera III plus.
Percobaan Factorial
percobaan faktorial adalah percobaan yang perlakuannya terdiri atas
semua kemungkinan kombinasi taraf atau level dari beberapa faktor.
Kombinasi-kombinasi taraf-taraf faktor inilah yang disebut sebagai faktorial.
Faktor yaitu sejenis perlakuan, dan didalam percobaan faktorial, setiap faktor
mempunyai beberapa perlakuan. Misalnya: bila suhu pada suatu pemanasan
dilakukan dalam beberapa suhu, suhu-suhu tertentu inilah yang disebut sebagai
taraf/ level. Jadi taraf atau level adalah banyaknya atau keadaan tertentu dari
suatu faktor.
Tujuan pecobaan faktorial
Tujuan dari percobaan faktorial adalah untuk melihat interaksi
antara faktor yang kita cobakan. Adakalanya kedua faktor saling
sinergi terhadap respon (positif). Namun adakalanya juga keberadaan suatu
faktor justru menghambat kinerja faktor lain (negative). Adanya kedua mekanisme
tersebut cenderung meningkatkan pengaruh interaksi antar ke dua faktor.
Pengaruh interaksi adalah kegagalan level faktor yang satu terhadap level
faktor yang lain untuk memberikan respon hasil yang sama. Pengaruh interaksi
juga dapat dikatakan sebagai perbedaan (selisih) respon dari suatu faktor
terhadap level faktor yang lain.
Keuntungan dan Kerugian
Keuntungan
menggunakan analisis ini adalah :
1.
Semua unit percobaan digunakan dalam
mengevaluasi efek dari masing-masing faktor.
2.
Interaksi antar faktor dapat diduga sehingga
dapat diketahui apakah faktor bekerja sendiri atau memiliki interasi dengan
faktor lainnya.
3.
Ruang lingkup pengambilan kesimpulan lebih
luas.
Kerugian menggunakan analisis ini
adalah :
1.
Analisis statistika menjadi lebih kompleks dan
panjang.
2.
Makin banyak faktor yang diteliti. kombinasi
perlakuan semakin meningkat pula. sehingga ukuran percobaan semakin besar dan
akan mengakibatkan ketelitiannya semakin berkurang.
3.
Terdapat kesulitan dalam menyediakan satuan
percobaan yang relatif homogen.
4.
Interaksi lebih dari 2 faktor agak sulit untuk
menginterpretasikannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar